Internasional Seminar and Sharing Session Prodi IAT UIN Sunan Kalijaga dengan IIUM Malaysia dan Universitas Columbia Amerika

Dalam rangka memperkuat internasionalisasi Prodi IAT FUPI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, setelah sebelumnya lolos sertifikasi AUN-QA level ASEAN tahun 2018, Prodi IAT mengadakan Seminar Internasional dengan IIUM Malaysia, dan menghadirkan pembicara dari Universitas Columbia Amerika. Tema yang diusung adalah Islam Wasathiyah, Pluralisme dan Pernikahan Beda Agama dalam Perspektif Islam. Seminar tersebut dilaksanakan pada tanggal 15 Januari 2019.
Pembicara pertama, Dr. H. Abdul Mustaqim, MAg, (Kaprodi IAT) menyampaikan dengan bahasa Arab dengan tema “ Mafhum al-Islam al-Washathi Fi Dlau’ al-Qur’an al-Karim” (Konsep Islam Wasathiyah dalam Perspektif al-Qur’an). Menurutnya, Islam Wasathiyah adalah sebuah konsep keber-isalaman yang tidak ekstrem kanan dan tidak ekstrem kiri, moderat di tengah-tengah. Islam Wasathiyah sebuah keniscayaan dalam konteks pluralisme, sebab sikap moderasi yang diajarkan Islam merupakan sikap yang ideal dalam menghadapi terjadi praktik-praktik radikalisasi agama yang acapkali mengatasanamakan Islam. Wasathiyiah merupakan thabi`ah al-Islam (the nature of Islam). Sehingga, segala bentuk sikap dan tindakan ekstremisme dapat dinilai sebagai tidak Qur’ani. Argumentasi Teologisnya dapat dirujuk antara lain dari Q.S. al-Baqarah [2]: 143) dan beberapa praktik kenabian di masa lalu.
Asst. Prof. Dr. H. Munthaha Artalim Zaim, MA menyampaikan kuliah dengan tema Al-`Alaqah bain Muslimin wa ghair al-Muslimin `abr al-Tarikh (Relasi Muslim dan Non Muslim dalam Lintasan Sejarah). Menurutnya, selama dalam kurun sejarah Islam, relasi Muslim dan non Muslim mencerminkan hubungan yang relative baik. Ada beberapa fakta sejarah, yang membuktikan hal itu. Misalnya bagaimana Nabi Saw berinteraksi dengan Yahudi di Madinah, dan bagaimana dulu beberapa sahabat juga ada yang menikahi Ahlul Kitab tanpa ada pemaksaan agama mereka untuk masuk Islam.
Verena Meyer, Ph.D Cand dari Columbia University berbicara tentang Suluk Jawa. Meyer menegaskan bahwa pluralisme adalah sebuah fenomena kehidupan dalam masyarakat modern, yang harus disikapi dengan arif dan bijaksana. Nilai-nilai dalam Suluk Jawa dapat menjadi basis nilai kultural bagaimana mengelola fenomena pluralitas di masyarakat.
“We think of pluralism as a modern phenomenon, as a virtue based on a certain liberal modern ethos. While pluralism as a specific ideology is, in fact, a modern phenomenon, plurality has been a fact of life for as long as humans have lived together in society. In this talk, I discuss the conceptualization of plurality and difference in classical Javanese Suluk literature, focusing on Islamic conceptualizations of pre-Islamic literary traditions, especially the Dewa Ruci narrative. Studying the understanding of plurality within a framework that is not modern in outlook allows us to simultaneously de-center and enrich modern understandings of pluralism.”
Kalangan mahasiswa tampil pula untuk mempresentasikan paper mereka dengan dimoderatori Hamdi Putra Ahmad, antara lain Nailul Muna dari Prodi IAT dan Aqil dari Prodi ILHA. .Hadir pula dalam kegiatan tersebut Dekan FUPI UIN SUKA Dr. Alim Roswantoro, M.Ag dalam rangka memberikan kata sambutan (welcome speech) dan beberapa dosen IAT dan ILHA, yaitu DR. H.Alfatih Suryadilaga, M.Ag (Kaprodi ILHA) Dr. Saifuddin Zuhri (Sekprodi ILHA), Dr. Afda Waiza (Sekprodi IAT), Lien Iffah NF MA, Fitriana Firdausi, M.Hum dan para mahasiswa IAT dan ILHA. Setelah acara selesai kemudian dilanjutkan dengan foto bersama dan saling kunjungan ke beberapa ruang Prodi. (Abd. Mustaqim)