10 Mahasiswa Mempresentasikan Esai Terbaik dalam Rangkaian Pekan Raya IAT 2018

Hari Rabu (28/11/2018), salah satu rangkaian kegiatan pekan raya IAT (Ilmu Al-Qur’an Tafsir), yaitu Lomba Esai se-DIY dengan tema “Progresivitas Peran Mahasiswa di Era Milenial” telah sukses digelar, bertempat di teatrikal Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam. Sebanyak 10 peserta yang dinyatakan lolos ke tahap final masing-masing dipersilakan untuk mempresentasikan tulisannya di hadapan 3 dewan juri, yaitu Dr. Roma Ulinnuha, MA (dosen program Pascasarjana), Fitriana Firdausi, S. Ag., M. Hum. (dosen program studi Ilmu Alquran dan Tafsir), dan Annas Rolli Muchlisin, S. Ag (alumnus program studi Ilmu Alquran dan Tafsir). Mereka berasal dari perguruan tinggi yang berada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dengan latar belakang program studi yang berbeda-beda. Sayangnya, dari 10 yang diundang, terdapat dua peserta yang berhalangan hadir dalam kegiatan ini.
Berdasarkan data dari panitia, 10 finalis tersebut adalah sebagai berikut.
- Aidil Fitrio Yara: Aku, Kita dan Indonesia
- Alif Jabal Kurdi: Memaknai Ungkapan Ale Rasa Beta Rasa: Upaya Meningkatkan Kesadaran Sejarah dan Nasionalisme Generasi Milenial
- Althaf Husein Muzakky: Relevansi Penafsiran Sayyid Quṭb QS. Al-Mā’idah: 8 dalam Menjawab Agresi Sosial di Era Milenial
- Friska Putri Nurmayanti: PETUNA (Permainan Tradisional Ular Naga) Sebagai Bentuk Pengetahuan Persatuan dan Pendidikan Karakter Pada Anak Usia Dini
- Hanin Nur Laili: Etos Studi Santri Mahasiswa dalam Menjaga NKRI Sebagai Upaya Pelestarian Kearifan Lokal
- Nur Rofiq Aisiyah: Potret Nyata Indahnya Pluralisme di Pondok Pesantren Bali Bina Insani
- Rahmat Hidayat: Klitih; Krisis Karakter Remaja, dan Solusinya dalam Perspektif Alquran
- Rizka Amelia: Kemiskinan dalam Perspektif Alquran
- Sariningsih: Peran Mahasiswa Sebagai Generasi Milenial dalam Meningkatkan Ekonomi Bangsa
- Tedy Febriyadi: Peranan Mahasiwa dalam Pengembangan Masyarakat Budidaya Habbatussauda dengan Teknik Aquaponik di Musim Kemarau
Acara diawali dengan seremonial pembukaan, meskipun waktu pelaksanaan terbilang sedikit mundur dari jadwal seharusnya. Pada kesempatan ini, koordinator panitia, Mirza Abdul Hakim, menjelaskan bahwa tujuan adanya perlombaan esai ini tidak hanya berupaya untuk mengembangkan potensi diri, namun juga sebagai ajang silaturahim dengan mahasiswa-mahasiswi lain, terlebih sebagai wadah membangun relasi antarkampus. Lalu, setelah acara seremonial ditutup dengan doa, pembawa acara memanggil satu persatu finalis untuk memulai presentasinya. Para dewan juri kemudian melemparkan pertanyaan yang beragam kepada masing-masing presenter.
Di pengujung acara, para juri memberikan saran dan komentar kepada sepuluh finalis. Fitriana berpesan supaya para peserta harus belajar lagi dan lagi, tidak berhenti pada lomba esai ini saja, akan tetapi juga untuk lomba selanjutnya. Pada kesempatan ini, karena hadir terlambat dan belum sempat menyimak presentasi dari awal, Roma meminta 10 finalis memaparkan tentang latar belakang dari esai yang mereka bawakan, “seringkali kita tidak menjelaskan apa yang ada di dalam kepala kita melalui tulisan. Sebenarnya latar belakang itu adalah apa yang barusan kalian ungkapkan, tetapi di dalam esai kalian tidak menuliskannya. Tapi tidak masalah, masih ada waktu untuk belajar dan memperbaikinya,” ujarnya.
Terakhir, Annas juga tak lupa memberikan saran dan masukannya kepada para juniornya, “tata bahasa harus lebih diperhatikan ketika menulis sebuah karya ilmiah, dan pemilihan kata harus bisa disesuaikan, tidak boleh menggunakan kalimat seperti berpuisi atau bercerita. Argumen pun harus disertai dengan data,” ungkapnya. (Tita)