Kuliah Umum 'Paradigma Tafsir Maqashidi'

Rabu, tanggal 7 Maret 2018 program studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir (IAT) menyelenggarkan kuliah umum dengan tema “Paradigma Tafsir Maqashidi”, yang bertempat di Teatrikal Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Narasumber kuliah Umum ini adalah Dr. H.A Halil Thahir, M.H.I, dosen Prodi IAT IAIN Kediri, dan penulis buku Ijtihad Maqasidi: Rekonstruksi Hukum Islam berbasis Interkonesitas Maslahah. Dr. Thahir adalah alumni dari Pondok Pesantren Nurul Jadid Probolinggo sekaligus sebagai ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ngawi. Kuliah ini wajib bagi mahasiswa/wi program studi IAT angkatan 2017, tetapi juga terbuka untuk mahasiswa dari angkatan dan program studi lain.
Dr. H. Abdul Mustaqim S.Ag, M.Ag selaku ketua program studi IAT menyampaikan dalam sambutannya, bahwa dengan diselenggarakannya kuliah umum tentang “Paradigma Tafsir Maqashidi” diharapkan mahasiswa mampu mengetahui dan membedakan antara tafsir Maqashidi dan Maqashid al-Syariah, sehingga dapat menyandingkan Hermeneutika yang dipopulerkan oleh Dr. Sahiron dengan Tafsir Maqashidi tanpa adanya gesekan. Ini dikarenakan tafsir Maqashidi dapat memberi nuansa dalam diri seorang penafsir, berupa pemahaman tentang kontekstualisasi dalam setiap ayat yang tersirat dalamAl-Quran. Memahami Al-Quran secara tekstual daja tidak cukup.
Dr. Thahir menyampaikan bahwa tafsir Maqashidi ini penting dalam khazanah keilmuan Al-Quran sebagai manifesto seorang penafsir dalam mengurai dan mempelajari Al-Quran. Menurutnya cara tafsir Maqashidi berpijak pada Al-Quran dan Sunnah, dan memperluas jangkauan penunjukan maknanya. Metode tafsir ini mengompromikan antara pesan yang bersifat universal dan umum yang bersifat khusus. Apabila terjadi pertentangan, yang didahulukan adalah al-kulliyat al-‘ammah. Beliau menambahkan tentang betapa pentingnya tafsir Maqashidi ini. Menurutnya, tafsir ini lebih moderat dan bertumpu pada maslahah tidak terlalu ekstrem kanan maupun kiri. Jalan tengah yang dimaksud adalah bahwa tafsir ini mempertimbangkan bunyi teks sekaligus konteksnya.
Kuliah ini juga dihadiri oleh para dosen Ilmu Al-Quran dan Tafsir. Antusiasme Mahasiswa juga ditunjukkan dengan berbagai pertanyaan yang diajukan kepada Narasumber. Sebagaimana disampaikan oleh Dr. Mustaqim, Prodi IAT diharapkan menjadi Prodi yang progresif dan bisa menjawab tantangan zaman.
(Dini Astriyani/Mhs. IAT)