Menguak Pergeseran Otoritas Mushaf Al-Qur’an Bersama Tim Peneliti Ahmad Baidowi, dkk

*YOGYAKARTA*

Di balik cetakan lembaran-lembaran mushaf Al-Qur’an yang kita baca hari ini, terdapat pergeseran budaya, teknologi, dan otoritas keagamaan yang berlangsung selama berdekade-dekade. Sebuah riset mendalam kini hadir untuk mengurai bagaimana praktik hafalan (ḥifẓ al-Qurʾān) dan maraknya terjemahan Al-Qur’an saling berinteraksi dengan perkembangan industri percetakan di Indonesia.

Studi bertajuk Printed Qur’an, Memorisation, and Translation: Pedagogy, Material Texts, and Religious Authority in Indonesia ini digawangi oleh tim peneliti yang terdiri dari Prof. Ahmad Baidowi, Dr. Phil. Fadhli Lukman, Muhammad Luthfi Dhulkifli, MA, serta melibatkan mahasiswa Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir (IAT) angkatan 2024, Fahriza Sukhan. Riset ini menempatkan bentuk fisik mushaf Al-Qur'an bukan sekadar benda mati, melainkan sebagai medium aktif yang turut membentuk cara masyarakat Muslim belajar, mengingat, dan memandang otoritas keagamaan.
Dari Pesantren Kudus hingga Fenomena Perkotaan

Penelitian ini berangkat dari sebuah temuan penting: hafalan Al-Qur'an bukan hanya praktik lisan (oral), melainkan juga visual dan material. Sejarah tata letak (layout) mushaf di Indonesia terbukti sangat dipengaruhi oleh kebutuhan pedagogis hafalan pesantren. Salah satu penanda sejarah yang paling kuat adalah warisan KH. Muhammad Arwani Amin (1905–1994)dari Kudus. Metode hafalan Kiai Arwani melahirkan rancangan "Mushaf Pojok" oleh penerbit Menara Kudus dengan tata letak simetris yang didesain khusus untuk memudahkan ingatan para santri.

Namun, lanskap tersebut kini mengalami perubahan. Seiring meluasnya literasi aksara Latin dan pendidikan modern, mushaf berterjemahan kian mendominasi pasar. Jika dahulu santri berfokus pada ketepatan tajwid dan pelafalan tanpa bergantung pada terjemahan teks, gerakan hafalan di kawasan perkotaan saat ini menunjukkan dinamika baru.

Banyak komunitas perkotaan yang menghafal secara mandiri dengan mengintegrasikan terjemahan dan desain visual berwarna. Fenomena ini secara bertahap meredistribusi otoritas keagamaan—akses makna yang tertera langsung pada lembaran cetak mulai melengkapi peran pengawasan guru atau rantai sanad tradisional.

Pendekatan Komprehensif dan Integrasi Internasional

Secara umum, para peneliti memadukan penelusuran sejarah percetakan, analisis materialitas mushaf, hingga studi lapangan di tengah jaringan pesantren dan komunitas perkotaan. Melalui pendekatan komprehensif ini, riset ini merumuskan konsep hybrid memorisation (hafalan hibrida), di mana tradisi sanad dan autonomi berbasis teks cetak saling berkelindan dalam Islam Indonesia modern.

Proyek riset ini juga menjalin kolaborasi dengan Roberto Tottoli dari Università degli Studi di Napoli L'Orientale. Keterlibatan akademisi internasional tersebut menjadi bagian nyata dari komitmen Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir (IAT) dalam mendorong internasionalisasi riset dan pengabdian masyarakat, sekaligus membawa studi materialitas Al-Qur'an Indonesia ke panggung akademik global. SKD

Kolom Terpopuler