Tradisi Ngaji Qur'an di Jawa Era Tahun 70-an

Oleh: Dr. H. Abdul Mustaqim(Kaprodi IAT UIN Yogyakarta)

Tradisi ngaji al-Qur'an di Jawa terbilang unik dan menarik untuk dinarasikan ulang. Setidaknya, apa yang penulisalami dan rasakan selama proses belajar al-Quran sejak kecil bersama kawan kawan di era tahun tujuh puluhan hingga delapan puluhan. Dulu anak-anak sehabis bermain seharianpenuh di sawah dan sungai, begitu sudah hampirMaghrib mereka pulang siap-siap pergi ke Masjid atau Langgar, atau kadang juga disebut dengan istilah nggon ngaji (tempat untuk belajar al-Quran).

Mereka bersiap-siap membawa oncor atau blarak untuk penerangan ketika pulang bakda Isyak. Mengingat, dulu suasana malam hari cenderung gelap gulita, harus melewati sungai atau tempat yang angker. Belum ada penerangan listrik di jalan yang dilalui. Di langgar atau nggon ngaji juga belum ada listrik , sebagai gantinya Pak Kiai atau Guru Ngaji menggunakan senthir atau lampu teplok.
Namun hal itu tidak menyurutkan mereka untuk tetap semangat belajar al-Qur'an. Begitu adzan Maghrib berkumandang anak-anak lalu membaca puji pujian baca sholawat sembari menunggu para jamaah datang. Mereka kemudian sholat Maghrib berjamaah, lalu baca wirid dan doa.

Setelah itu,mereka antri sambil menyiapkan bacaan yang mau disetor kan di hadapan Pak Kiai.Dalu,umumnya Pak Kiai galak dalam mengajari ngaji.Jika belum lanyah (lancar) belum berpindah ke baris atau ayat berikutnya.Kadang harus mengulang sampai sepuluh kali, bahkan kadang Pak Kiai sampai gebrak meja atau dampar, jika santri berkali kali salah. Tapi hal itu tidak menyurutkan para santri untuk tetap mengaji. Masih kuat tertanam dalam benak para santri bahwa marahnya kiai itu ikhlas dan akan membawa berkah jika santri tetap sabar.


Ini tidak lepas dari doktrin kitab kuning seperti Kitab Ta'lim Muta'alim karya Syaikh al Zarnuji dan juga kitab Adabul Alim wal Mutaallim karya Syaikh Hasyim Asyari. Di dalam kedua kitab tersebut diajarkan tentang beberapa etika dan syarat seorang santri jika ingin sukses dalam mengaji. Metode pembelajaran baca Qur'an juga cukup unik yaitu diawali dengan proses pembelajaran al-Quran untuk memperoleh akurasi dalam tata cara membaca al Qur'an yang sesuai dengan teori ilmu tajwid.

Berbeda dengan sekarang,yang guru ngajinya datang ke rumah muridnya,dulu para santriyang datang kepada guru ngaji, bisa di langgar atau rumah kiai. Metode yang digunakan adalah metode baghdadi, yaitu dengan meng eja. Misalnya alif fathah a, ba' fathah ba dan seterusnya. Hingga kemudian anak santri mampu membaca al-Quran. Di samping itu, para santri juga harus menghafal surat -surat Juz 'Amma dengan menggunakan Kitab Turutan. Disebut demikian, karena di dalam kitab tersebut terdapat urut-urutan surat-surat pendek dari Surat al-Duha hingga al Nas.

Tidak hanya itu, para santri saat itu juga diajari untuk bisa membaca bacaan-bacaan sholat dan dipraktikkan, dengan menggunakan kitab Pasolatan. Bisa dimengerti mengapa dulu KH Sholeh Darat juga menulis kitab Pasholatan, sebagai salah satu referensi dalam proses transmisi dan transformasi pengetahuan. Setelah santri dirasa sudah dapat mengaji secara nggladak, (yakni langsung membaca tanpa dieaja) santri lalu memasuki ngaji al-Quran, hingga kemudian sampai khatam tiga puluh juz.

Begitu sudah khatam ngaji di hadapan Pak Kiai, maka santri akan dikhatami dengan membaca surat surat pendek di hadapan masyarakat termasuk di hadapan bapak ibunya.Acara khataman biasanya dibarengkan dengan peringatan maulid Nabi atau Isra Miraj. Prosesi khataman dimulai dengan diarak keliling kampung, naik kuda bagi santri laki-laki dan naik becak bagi santri perempuan, lengkap dengan iringan rebana atau kencrengan dan juga barongan.

Sungguh merupakan kebahagiaan tersendiri bagi santri dan tentu juga bagi orangtuanya, jika sudah bisa khatam al Quran.Sebab hal itu menjadi tangga bagi proses belajar agama berikutnya, dengan mengaji kitab kuning atau dilanjutkan ke pondok pesantren.Walhasil, proses ngaji Qur'an era tujuh pulan memang membawa kesan yang cukup unik dengan segala suka dan dukanya.Hemat penulis, tradisi tersebut masih layak dilestarikan demi menjaga kualitas pembelajaran al Quran yang lebih otentik sebab talaqqi dari guru ke murid benar-benar bisa dirasakan.

Kolom Terpopuler