Belajar Bioetika Islam dari Murid Ali Syariati

Kamis, 17 November 2016, Prodi Ilmu al-Qur`an dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga bekerja sama dengan Lisafa dan IKMP UIN Sunan Kalijaga telah mengadakan kuliah umum di Smart Room Fakultas Ushuluddin. Kegiatan tersebut mengangkat tema “Bioethics from Qur`anic Perspective” dengan menghadirkan Prof. Abdulaziz Sachedina, penulis buku Islamic Biomedical Ethics (Oxford University Press, 2009).

Lebih lanjut, murid dari Ali Syariati ini memaknai konsep takwa dalam al-Qur`an sebagai landasan konsep ethics, atau akhlaq. Takwa tidak sekadar bermakna takut kepada Allah, tetapi takwa mengandung makna “to develop your inner capacity/ability to know the right from the wrong,” meningkatkan kemampuan dalam mengetahui mana yang baik dan yang buruk. Beliau mengutip QS. Al-Baqarah ayat 1-3, dalam ayat 2 disebut al-muttaqin, kemudian dilanjutkan dengan amanuu (agama). Karenanya, etika ini lebih dahulu dan utama dari agama, beliau mencontohkan ibadah shalat tanpa dibarengi etika, maka sia-sia shalat yang dilakukan.

Sebagai seorang ahli di bidang bioethics, beliau menghubungkan konsep di atas dengan fenomena-fenomena modern yang berhubungan dengan kesehatan, misalnya AIDS. Di sela-sela diskusi, ada yang bertanya tentang tanggapan beliau terhadap merokok. Beliau menjawab bahwa merokok dalam konteks bioethics adalah dilarang, sebab hal tersebut memiliki dampak negatif bagi tubuh. Beliau juga menjawab pertanyaan tentang euthanasia. Menurutnya, euthanasia pasif (misalnya dengan mencabut alat-alat kedokteran) dibolehkan tetapi euthanasia aktif (misalnya dengan memasukkan zat tertentu ke dalam tubuh) tidak diperbolehkan.

Beberapa mahasiswa bertanya tentang kehidupan beliau. Ada yang menyinggung cara belajar bahasa, sebab, Profesor dari George Mason University, Virginia-USA, ini menguasai 12 bahasa. Menurut beliau, belajar bahasa dapat dilakukan dengan belajar dan tinggal langsung bersama di lingkungan bahasa tersebut. Beliau menambahkan, dalam studi al-Qur`an, salah satu bahasa yang wajib diketahui adalah bahasa Jerman.

Ketika ditanya tentang guru yang paling berpengaruh bagi beliau, beliau menjawab ia adalah Ali Syariati. Menurutnya, sebagai seorang guru, Ali Syariati tidak hanya memberikan ilmu pengetahuan saja, tetapi juga hatinya. Dia adalah sosok yang sangat mencintai murid-muridnya. Ini juga yang terpancar dari sosok Abdulaziz Sachedina, dan semoga ke depan akan lahir penerus-penerus studi Islam yang mengedepankan nilai-nilai etika dan moral.

(Rahmatullah/Mhs. IAT)