Andrew Rippin dan Studi al-Qur’an di Kesarjanaan Barat
Oleh:Miftahur Rahman
Studi Alquran di kalangan kesarjanaan Barat telah berkembang dengan deras. Berbagai pendekatan yang telah mereka gunakan untuk meneliti Alquran. Pendekatan-pendekatan tersebut misalnya, sastra, kritik teks, kritik sejarah, struktural, filologi, bahkan intertekstualitas. Pendekatan-pendekatan tersebut hanya membahas “teks” Alquran. Kajian terhadap “tafsir” Alquran terlupakan. Salah satu yang menaruh perhatian terhadap tafsir Alquran adalah Andrew Rippin. Artikel ini akan membahas Andrew Rippin dan bagaimana posisinya dalam ranah studi Qur’an?
Lawrence Andrew Rippin atau dikenal dengan Andrew Rippin ialah guru besar di bidang sejarah. Ia lahir pada tanggal 16 Mei 1950 di London, Inggris. Ia sempat menjabat sebagai dekan fakultas Humaniora di Universitas Victoria, Kanada. Ia memulai pendidikannya dalam bidang studi agama secara general. Ketertarikannya untuk mengkaji al-Qur’an muncul dari studi ini. Sejak awal studinya di perguruan tinggi telah mengambil konsentrasi pada studi agama(religious studies).Adapun gelar BA, dia peroleh dari University of Toronto pada tahun 1974, dan tiga tahun kemudian, dia berhasil menyelesaikan Masternya dalam bidang kajian Islam(Islamic Studies). Pada tahun 1981, ia berhasil memperoleh gelar Ph. D dalam bidang kajian tafsir dari Universitas McGill, dengan disertasi yang berjudul"The Qur’ânicAsbâb al-NuzulMaterial: an Examination of its Use and Development in Exegesis,"yang dibimbing langsung oleh John Wansbrough.[1]
Sejak saat itu, Rippin amat produktif dalam bidang studi Islam, terutama dalam topik periode formatif peradaban Islam di dunia Arab, serta al-Qur’an dan sejarah penafsirannya. Dia menulis di berbagai jurnal yang diakui dalam dunia akademis, sepertiBOAS, Arabica, Muslim World, Journal of Semitic Studies, dll.Di antaranya karyanya adalahApproaches to the Historyof the Interpretation of the Qur’ân(1988) danThe Qur’ân:Formative Interpretation(2000). Sedangkan karya monumentalnya adalah Muslims, Their Beliefs and Practices. Buku ini ditulis dalam dua jilid: jilid pertama, “The Formative Period”, dan jilid kedua “Contemporary Period”. Ia juga banyak menjadi editor karya-karya tentang studi al-Qur’an.[2]
Andi Faisal bakti menjelaskan bahwa Andrew Rippin adalah pendukung metodologi analisis sastra (literary analisis). Sama seperti gurunya, Wansbrough, dia di sebagian besar karyanya, tertarik untuk meneliti sebuah konsep tertentu. Seperti kata nahnu (kami) atau ana (saya), atau wajah Allah (wajah Allah) dalam al-Qur’ân. Dalam penulisan disertasinya tentang asbâb al-nuzûl al-Qur’ân, ia menggunakan survei bibliografis dan terminologis (bibliographical and terminological survey). Ia juga amat apresiatif atas literatur Islam awal, meskipun dia sering kali mengkritisi kebenaran informasi mereka.[3]
Andrew Rippin dalam artikelnya yang berjudul “The Exegetical Genre asbâb al-Nuzûl: A Bibliographical and Terminological Survey” meneliti siapa saja yang mempunyai karya yang berkaitan dengan asbâb al-nuzûl. Dalam penelitian tersebut, ia mengulas liiteratur dari Islam awal hingga pertengahan, seperti Ikrimah (w. 723 M), al-Wahidi, Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 1449 M), hingga as-Suyuti (w.1505 M) yang mempunyai karya Lubab an-Nuqul fi asbâb al-nuzûl. Survei karya tersebut tidak hanya dibatasi dengan karya yang telah terbit, akan tetapi yang masih dalam bentuk manuskrip juga ia kutip. Tercatat ada 19 karya yang ia tampilkan dalam hal bibliografi tentang asbâb al-nuzûl.[4] Menurut Bakti, Andrew Rippin berkesimpulan bahwa al-Wahidi yang mempunyai karya terawal serta luas dan berhasil mengumpulkan kitab-kitab tersebut dalam satu karya bibliografis. Menurut Andrew Rippin, pada abad ke-4, oleh al-Wahidi istilah asbâb al-nuzûl menjadi mapan dan sekaligus menandai munculnya wacana penafsiran Alquran dengan asbâb al-nuzûl.[5]
Andrew Rippin menyatakan bahwa disebabkan ketertarikannya terhadap tafsir Alquran, ia memfokuskan kajiannya terhadap tafsir al-Qur’an. Ketika ia menikmati karya-karya tafsir, ia mendapati kreativitas yang mahadahsyat, kecerdikan, dan kecerdasan dari para mufasir Alquran. Ia sangat mendukung adanya kajian tafsir secara serius. Ia menawarkan tentang “tafsir studies” yang sejajar dengan “Qur’anic studies” Dalam karyanya yang berjudul “The Present Status of Tafsir Studies”, ia berkesimpulan bahwa diperlukan penilikan terhadap bibliografi tafsir dalam dunia Islam dalam sebuah subjek penelitian. Penilikan tersebut termasuk dalam tafsir yang berbahasa yang asli seperti bahasa Arab, Persia, Urdu, dan bahasa Indoneisa. Ia juga menyadari bahwa ini bukanlah hal yang mudah. Dalam “tafsir studies” juga perlu memperhatikan hasil analisis historis dari penafsiran Islam seperti yang dilakukan oleh Goldizer dalam karyanya "Mazahib at-Tafsir”.[6] Oleh karena itu, Andrew Rippin, banyak mengulas tentang tafsir, baik dari segi sejarah, tafsir mazhab, metodologi tafsir, perkembangan tafsir dan lain sebagainya.
[1] Lihat http://en.alukah.net/World_Muslims/0/1408/ wawancara Abdu Rahman Abu al-Majid dengan Andrew Rippin
[2] Lihat riwayat hidup Andrew Rippin dalam web.uvic.ca/arippin/rippincv.pdf, diakses pada 2 Maret 2017
[3] Andi Faisal Bakti, “Paradigma Andrew Rippin dalam Studi Tafsir” dalam Jurnal Studi Qur’an (JQS), Vol. I, No. 2, 2006, hlm. 75-85
[4] Andrew Rippin “The Exegetical Genre "asbab al-nuzul": A Bibliographical and Terminological Survey” dalam Bulletin of the School of Oriental and African Studies, University of London, Vol. 48, No. 1 (1985), hlm. 1-15
[5] Andi Faisal Bakti, “Paradigma Andrew Rippin dalam Studi Tafsir”,, hlm. 82
[6] Andrew Rippin “The Present Status of Tafsir Studies” dalam jurnal The Muslim World, hlm. 224-238