Respon atas Tulisan 'Dialektika Duo Abdul Berbicara Tentang Hukum Ucapan Selamat Natal'
Memahami Alur logis sebuah tulisan pada dasarnya hanya memahami struktur rancangan yang didesain oleh penulis tertentu dalam membangun argumentasi, termasuk dalam deskripsi masalah. Heri dan Haris adalah dua mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) di UIN Suka Yogyakarta angkatan 2015 yang mencoba membangun argumentasi deskriptif tentang fenomena hukum mengucapkan selamat natal yang diunggah di Youtube dari dua tokoh, yaitu Abdul Somad, tokoh da’i sekaligus dosen Bahasa Arab, Tafsir Hadis, dan Agama Islam di UIN Suska Riau. dan Abdul Mustaqim, tokoh akademis sekaligus dosen Tafsir Hadis di UIN Suka Yogyakarta.
Heri dan Haris dalam tulisannya secara tidak langsung telah mengkomparasikan dua pendapat yang berbeda dari dua tokoh tersebut, tetapi mereka menyajikan tulisan mereka dengan format posisi Abdul Shomad sebagai tesis (pernyataan yang didukung oleh argumen yang dikemukakan) haram bagi muslim mengucapkan selamat natal, sedangkan posisi Abdul Mustaqim sebagai antitesis (pengungkapan gagasan yang bertentangan) dengan mengkritik alasan argumen keharaman tersebut.
Penulis menemukan 15 diksi yang menurut penulis tidak rapi dalam membangun alur logisnya, yaitu:
1. “kemudahan yang telah ditawarkan oleh teknologi tersebut tidak diimbangi dengan kapasitas objek yang diberi kemudahan”
Maksud masyarakat mengakses sumber data vidio-vidio ceramah keagamaan dari youtube jelas beragam, mayoritas masyarakat memiliki maksud untuk mencari informasi yang tidak mereka ketahui, disamping alasan praktis juga tingginya kecenderungan untuk mengikuti alur ceramah dari informan yang mereka kagumi. Stratifikasi kapasitas antara informan dan orang yang mencari informasi jelas terjarak jauh, sehingga diksi yang dipilih penulis “tidak diimbangi” menjadi tidak benar.
2. “kebibungan atas kebenaran”
Benarkah diksi ini tepat untuk mendeskripsikan hal fundamental yang dibinggungkan masyarakat?, sebab kebingungan yang terlihat justru lebih kepada masyarakat tidak bisa menyikapi perbedaan pendapat (pro-kontra) sebuah hukum kasusistik, bukan kebingungan atas kebenaran, karena kebenaran itu relatif, tentatif, dinamis dan lain sebagainya.
3. “banyak informasi yang berideologi dari kanan, tengah atau kiri
Memilih diksi ideologi seakan justru merupakan bentuk penyikapan yang tidak akademis, terlebih menyebut tiga sisi yang tidak jelas standar menurut versi siapa, terlebih selanjutnya, jika tulisan ini hendak menjelaskan komparasi dari dua sisi tentunya tidak perlu menyebutkan tiga sisi, atau menyebutkan tiga sisi tetapi menjelaskan posisi pendapat setiap sisi, hal ini tidak dijelaskan oleh penulis.
4. “pada akhirnya masyarakat akan memilih informasi yang paling dekat dengannya”
Memilih diksi “pada akhirnya” berkonsekuensi menjelaskan realistas, selanjutnya benarkah realitasnya adalah masyarakat memilih informasi yang paling dekat?, padahal mereka masih terjebak dalam kebingungan untuk bersikap, dan konotasi yang muncul adalah memilih satu informasi adalah sebuah kesalahan, bukankah pernyataan diksi itu merupakan bentuk penghakiman sepihak.
5. “pemahaman yang condong pada satu ideologi”
Penggiringan opini bahwa perilaku condong pada satu ideologi adalah kesalahan adalah bentuk kesalahan, sepertinya penulis hendak menjelaskan bahwa bermoderat itu adalah mengetahui semua ideologi, dan bermoderat itu adalah sebuah keharusan, bukankah pernyataan ini adalah pemaksaan sebuah gagasan tertentu, malah logika yang dibangun adalah tidak condong pada satu ideologi merupakan bentuk ideologi berpihak yang sama.
6. “menjadi tugas kita semua sebagai umat islam untuk menyelesaikan masalah ini”
Menyelesaikan masalah dalam konteks dialog ilmiah merupakan tanggungjawab akademis, bukan sebagai umat islam.
7. “toleransi... dinilai sebagai sesuatu yang harus ... apabila masalah ini diabaikan , maka sangat mungkin terjadi perpecahan”
Diksi “harus” dan “mungkin” bukanlah sesutu yang bagus untuk dirangkai dalam satu kalimat, sebab logika kata dari “harus” adalah tidak memberi opsional, sedangkan logika kata dari “mungkin” adalah simbol opsional.
8. “masyarakat ... tidak mementingkan latar belakang akademis ... sangat tertinggal dalam percaturan akademik ... pada akhirnya neo-kejumudan bersemi..”
Mencari informasi yang dilakukan masyarakat bukanlah sebuah tindakan yang disebut akademik, apalagi diksi “menimbulkan kejumudan” adalah logika konsekuensi yang tidak ada hubunganya. Seharusnya proporsi yang nantinya dinilai sebagai kejumudan adalah dialog ilmiah pro dan kontra, bisakah merelevansikan dan mengkontekstualisasikan tema keagamaan tertentu?, bukan sikap masyarakat yang abai terhadap latar belakang dari seorang informan.
9. “menurut Abdul Somad: “mengucapkan selamat natal ... akan dianggap ikut meyakini bahwa tuhan mempunyai anak...
“menurut abdul mustaqim “mengucapakan selamat natal tidak serta merta mengubah keyakinan seorang muslim menjadi kresten...”
Komparasi dalam memilih diksi “akan dianggap” dan “tidak serta merta” merupakan dua hal yang tidak bertentangan yang dipertentangkan, sebab makna dari “akan dianggap” memunculakan opini publik seperti anggapan publik akan meyangka setiap orang yang masuk ke toilet adalah orang yang telah habis buang air, meskipun realitanya tidak demikian, sama seperti argumen Abdul Somad tentang alasan haram bagi muslim mengucapkan selamat natal. Sedangkan argumen Abdul Mustaqim menilai argemen Abdul Somad adalah sebuah kepastian otomatis.
10. Persoalan mengucapkan natal adalah persoalan mua’amalah
“ilat hukumnya tidak bertemu antara hukum asal dengan hukum far’i“
11. “beliau (nabi) tidak melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar mengucapkan, yaitu melindungi dan menjamin keamanan beribadah ...”
12. “bahkan banyak ulama kontemporer ... membolehkan ucapan selamat natal”
13.“sekedar mengucapakan selamat natal ... tidaklah menganggu aqidah (tulis: akidah) seorang muslim, karena itu adalah sebuah bentuk penghargaan atas kegembiraan umat kristen pada hari rayanya”
14. “Abdul Mustaqim ... lebih menekankan pada aspek kestabilitasan masyarakat”
15.“beliau hadir untuk memberikan kritik akademis ... sebagai jalan untuk mengajak masyarakat kepada taraf berpikir yang humanis”
Sebenarnya tulisan ini mau menyelesaikan setiap poin 15, tetapi berhubung waktu sengang sudah habis dilanjutkan kapan-kapan, Sekian terimakasih, semoga benrmanfaat.
(Faishol Amin/ Mhs. IAT)