Seminar Pekan Raya IAT Telusuri Tafsir Kyai Saleh Darat dan Intelektualisme Islam Jawa Abad ke-19

Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir bersama HMPS IAT Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUPI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menggelar seminar akademik bertajuk “Membaca Tafsir dari Jawa: Kyai Saleh Darat, Fayḍ al-Raḥmān, dan Dunia Intelektual Abad ke-19” pada Senin (12/10/2026). Bertempat di Ruang Teatrikal FUPI, perhelatan yang menjadi bagian dari agenda tahunan Pekan Raya IAT ini dihadiri ratusan mahasiswa dan akademisi pengkaji studi Al-Qur'an Nusantara.

Kegiatan dibuka secara khidmat melalui penampilan Tari Sambut dan sambutan kelembagaan. Wakil Dekan III FUPI, Dr. Ahmad Salehudin, S.Th.I., M.A., dalam sambutannya menegaskan bahwa mengkaji pemikiran ulama Nusantara bukan sekadar romantisme sejarah, melainkan ikhtiar metodologis untuk membongkar hegemoni pemahaman teks yang kerap tercerabut dari konteks lokalitasnya. Semangat tersebut selaras dengan dorongan Ketua Panitia, Nayla Shafwil Widad, dan Ketua HMPS IAT, Rifki, yang menempatkan forum ini sebagai ruang refleksi kritis atas pembentukan nalar tafsir pribumi.

Memasuki sesi inti yang dipandu oleh Arina Al-Ayya, S.Ag., diskursus keilmuan bergulir mendalam melalui pembacaan dua narasumber. Nur Ahmad, M.A., Ph.D. mengurai posisi strategis Kyai Saleh Darat (w. 1903) dalam jejaring kosmopolitan ulama Hijaz–Jawa abad ke-19. Lewat magnum opusnya, Fayḍ al-Raḥmān fī Tarjamah Tafsīr Kalām Mālik al-Dayyān, Kyai Saleh Darat dinilai berhasil mendemokratisasi akses pengetahuan Al-Qur’an bagi masyarakat Jawa melalui aksara pegon, tanpa mereduksi kedalaman hermeneutika

sufistiknya. Teks tafsir ini memperlihatkan bagaimana transmisi keilmuan dari pusat Islam diolah secara emansipatoris agar berdaya guna di tengah realitas kolonial dan struktur sosial masyarakat pesisir Jawa kala itu.

Melanjutkan pembacaan tersebut, pemikir kebudayaan Irfan Afifi, S.Fil. membedah dimensi ontologis dan mistik yang melingkupi teks. Ia menyoroti kelihaian Kyai Saleh Darat dalam mendialogkan tasawuf falsafi bercorak Akbarian (Wahdatul Wujud) dengan disiplin etika-pedagogis khas al-Ghazālī, yang kemudian diartikulasikan ke dalam lanskap batin dan rasa kebudayaan Jawa. Dari perspektif ini, Fayḍ al-Raḥmān dibaca bukan sekadar karya terjemahan skriptural yang pasif, melainkan sebuah ruang perjumpaan interdiskursif tempat teks suci, metafisika Islam, dan kebijaksanaan lokal saling menafsirkan.

Antusiasme peserta mengemuka pada sesi tanya jawab, di mana diskusi berfokus pada relevansi metodologi tafsir lokal dalam menjawab tantangan studi Al-Qur'an kontemporer yang kerap terjebak pada puritanisme tekstual. Rangkaian seminar yang berlangsung hangat dan sarat dialektika ilmiah ini akhirnya dipungkasi menjelang tengah hari dengan pembacaan doa, penyerahan cinderamata kepada kedua narasumber, serta sesi dokumentasi bersama seluruh peserta.