PRODI ILMU TAFSIR UIN SUNAN KALIJAGA MENGADAKAN SUMMER SCHOOL AND INTERNATIONAL CONFERENCE ON ISLAM AND EVOLUTION

Sains yang saat ini lahir dan tumbuh pesat dari jantung peradaban Barattelah tersekulerkan dan memberikan tantangan tersendiri bagi umat beragama, tak terkecuali Islam. Ada beberapa temuan saintifik yang dianggap melemahkan klaim-klaim dogmatis Islam. Selain itu, ada pula implikasi-implikasi metafisis yang juga berseberangan dengan metafisika Islam.

Salah satu topik yang cukup menantang adalah teori evolusi. Teori ini kerap menjadi perhatian khusus sebab formulasinya yang tampak menentang doktrin penciptaan Adam sebagai manusia pertama, dan dengan demikian merongrong bangunan metafisika Islam dimana konsep manusia sebagai ciptaan khusus dengan tujuan khusus adalah satu titik sentralnya. Belum lagi implikasi filosofis semisal teori ketidak-beraturan (randomness) yang jelas bertentangan dengan ajaran Islam yang menyatakan alam ini diciptakan menurut hikmah Allah (Malik, 2016).

Dalam merespon teori evolusi, umat Islam menunjukan cara yang beragam. Mulai dari yang menerimanya apa adanya tanpa mempedulikan implikasinya bagi agama, menerimanya sebagai sesuatu yang sesuai dengan ajaran Islam, hingga mereka yang menolaknya mentah-mentah (S. Malik, 2016).

Pada kasus pertama, tentu terjadi kepribadian terbelah. Misalnya, sebuah survei menunjukan bahwa siswa-siswa SMA di Indonesia dan Pakistan meyakini bahwa manusia ada di dunia ini sejak awal sudah dalam bentuk fisiknya seperti saat ini, tapi mereka juga mengakui bahwa manusia termasuk makhluk yang mengalami evolusi (Hoag, 2009). Namun respon yang menolaknya pun berpotensi membuat umat Islam semakin menjauhi sains.

Sayangnya, sikap-sikap tersebut (baik menolak maupun menerima) tidak muncul dari pengetahuan yang memadai. Baik pengetahuan tentang teori evolusi itu sendiri, maupun pengetahuan tentang pokok-pokok ilmu agama (ushuluddin) yang seharusnya menjadi landasan paradigmatik dalam menilai teori evolusi (Malik & Kulieva, 2020).

Salah satu sebab dari kurangnya pengetahuan ini adalah tersebarnya literatur-literatur kreasonis di dunia Islam. Di satu sisi literatur-literatur tersebut menampilkan teori evolusi secara karikaturis dan di sisi lain meminjam secara tidak kreatif argumen-argumen kreasonis Kristen di Barat. Akibatnya, alih-alih memberikan solusi, literatur demikian malah memperpanjang kebingungan (Varisco, 2018).

Berangkat dari keprihatinan di atas, Program Studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga bermaksud mengadakan IAT INTERNATIONAL SUMMER SCHOOL AND CONFERENCE dengan tema “Islam and Evolution: Quranic Concept of Creation and Modern Evolutionary Paradigm” dengan maksud untuk turut berpartisipasi secara konstruktif di dalam diskusi Islam dan sains moderen, khususnya teori evolusi.

Di antara topik penting yang akan dibahas adalah tinjauan terhadap teori evolusi untuk menjernihkan miskonsepsi-miskonsepsi awam terhadapnya, persoalan yang muncul dari adaptasi taktik kreasonis Kristen dalam literatur-literatur kreasonis Muslim, serta tinjauan analitik-kritis terhadap teori dan paradigma evolusi dengan pendekatan metafisika (kalam) dan hermeneutika Islam (tafsir-takwil).

Pembicara utama kuliah singkat ini adalah Dr. Shoaib Ahmed Malik, ahli teknik kimia Zayed University, Dubai yang juga mendalami kaitan filosofis antara sains dan Islam yang juga aktif di Fatima Elizabeth Institute Of Islam Science And Philosopy London, United Kingdom. Beliau telah menulis banyak artikel ilmiyah tentang Islam dan evolusi di jurnal-jurnal ternama. Buku beliau, Islam and Evolution: Al-Ghazali and Modern Evolutionary Paradigmbaru saja diterbitkan oleh Routledge pada April 2021. Di samping itu beberapa dosen UIN Sunan Kalijaga juga akan menjadi pembicara dalam acara ini.

Informasi lebih lanjut tentang acara ini dapat dibaca dalam booklet ini:

Untuk informasi versi bahsa Inggris, klik di sini