UIN Sunan Kalijaga dan UIN Fatmawati Soekarno Gelar Seminar Bersama Bahas Tafsir Kontemporer

Yogyakarta, 30 Oktober 2024– Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menerima kunjungan dari 79 mahasiswa dan 7 dosen Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) UIN Fatmawati Soekarno Bengkulu pada Rabu, 30 Oktober 2024. Kegiatan ini berlangsung di Teatrikal Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga, yang dimulai dengan sambutan hangat dari Himpunan Mahasiswa Program Studi IAT.

Kunjungan ini bertujuan untuk memperdalam wawasan dan pengetahuan tentang tafsir Al-Qur’an, terutama dalam kaitannya dengan isu-isu kontemporer yang berkembang di masyarakat. Dalam kuliah umum ini, tiga narasumber berkompeten di bidangnya memberikan paparan yang memperkaya pemahaman mahasiswa. Prof. Dr. Abdul Mustaqim, Guru Besar Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga, menjadi narasumber pertama dengan membahas tafsir kontekstual. Ia menekankan bahwa tafsir Al-Qur’an tidak hanya sebatas menjelaskan teks, tetapi juga harus mampu menjawab persoalan-persoalan kontemporer yang berkembang di masyarakat. Ia memperkenalkan metode Tafsir Maqashidi, yang menggabungkan aspek tekstual dan konteks zaman, sebagai salah satu cara untuk mencapai tafsir yang lebih relevan dan moderat.

Sesi kedua dilanjutkan oleh Syukraini Ahmad, M.A., yang mengangkat tema pentingnyasiyaq(konteks) dalam penafsiran Al-Qur’an. Syukraini menjelaskan bahwa ada dua jenis konteks yang harus diperhatikan dalam tafsir, yaitusiyaq lughawi(konteks bahasa) dansiyaq ghairu lughawi(konteks selain bahasa, seperti sebab turunnya ayat dan kondisi sosial masyarakat pada masa itu). Menurutnya, pemahaman konteks sangat krusial untuk menghasilkan tafsir yang lebih akurat dan menghindari salah tafsir terhadap ayat-ayat Al-Qur’an.

Dr. Aibdi Rahmat, M.Ag., menjadi narasumber terakhir dengan mempresentasikan kosa kataAl-Ilahdan derivasi maknanya dalam bahasa Arab. Ia menjelaskan bahwa meskipunAl-Ilahmemiliki makna yang serupa dengan Allah, kata ini lebih mengarah pada sifat-sifat ketuhanan seperti Yang Maha Berkuasa dan Yang Disembah. Dr. Aibdi juga mengungkapkan bahwa dalam pandangan masyarakat Arab, bentuk jamakAalihahmuncul meskipun secara harfiahAl-Ilahtidak memiliki bentuk jamak.

Kegiatan ini diakhiri dengan sesi tanya jawab yang interaktif, memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk lebih mendalami materi yang telah disampaikan. Acara pun ditutup dengan foto bersama, meninggalkan kesan yang mendalam bagi seluruh peserta dan membuka wawasan baru bagi mereka dalam memahami Al-Qur’an di tengah dinamika zaman.