Menemukan Oase Iman di Negeri Sakura: Kisah Pengabdian Kepada Masyarakat Ricka di Ueda
Bagi Ricka, mahasiswa jurusan Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir (IAT), KKN bukan sekadar gugur kewajiban akademis. Ketika LPPM UIN Sunan Kalijaga membuka pintu program KKN Internasional perdana untuk angkatan 120, mimpi lama Ricka untuk menginjakkan kaki di Jepang bangkit kembali. Kesempatan ini terlalu berharga untuk dilewatkan. Prosesnya tidak mudah; Ricka harus melalui diskusi panjang dengan orang tua untuk mengumpulkan keberanian mendaftar. Tahapan seleksi pun ketat, mulai dari pemberkasan, penyusunan proposal program kerja, presentasi, hingga wawancara yang sepenuhnya menggunakan bahasa Inggris. Dari sekian banyak pendaftar, hanya tujuh mahasiswa yang berhasil menyusun proposal, dan Ricka bangga bisa menembus posisi lima besar sebagai delegasi resmi ke Jepang.
Usai pengumuman, hari-hari Ricka disibukkan dengan persiapan: mengurus visa yang menguras energi, mematangkan program kerja kelompok, hingga akhirnya terbang menuju lokasi KKN di Masjid Indonesia Ueda, Kota Ueda, Prefektur Nagano. Setibanya di sana, sebagai pendatang baru, culture shock tak terhindarkan. Ricka harus beradaptasi dengan ritme hidup orang Jepang yang luar biasa cepat, cara jalan mereka yang terburu-buru, aturan tidak tertulis di ruang publik, sistem pemilahan sampah yang rumit, hingga tantangan mencari makanan halal. Di balik kebingungan itu, Ricka dibuat takjub oleh keteraturan sistem pemerintahan dan fasilitas publik Jepang.
Sempat terlintas kekhawatiran akan perlakuan rasis atau respons negatif karena hijab yang dikenakannya. Namun, prasangka itu runtuh saat momen hangat di stasiun kereta. Seorang Ojisan (kakek) mendekatinya, bertanya dengan nada khawatir apakah Ricka tidak kepanasan mengenakan penutup kepala di tengah musim panas Jepang yang suhunya bisa menembus 36 derajat Celcius. Pertanyaan tulus itu menyadarkan Ricka bahwa masyarakat lokal justru ramah dan perhatian, jauh dari bayangan negatifnya.
Masjid Indonesia Ueda menjadi jantung aktivitas KKN Ricka. Di sinilah diaspora Indonesia berkumpul, menjalin persaudaraan melalui pertemuan mingguan, makan bersama, hingga perlombaan olahraga seperti badminton dan tenis meja. Salah satu program utama Ricka dan tim adalah mengajar Al-Qur’an bagi anak-anak diaspora yang lahir dan besar di Jepang. Ini menjadi misi penting agar generasi muda muslim ini tetap memiliki akar agama yang kuat meski tumbuh sebagai minoritas. Setiap akhir pekan, suasana hangat tercipta saat jamaah menggelar pembacaan Yasin dan Tahlil yang dilanjutkan makan bersama, sebuah ritual untuk mengobati rasa rindu kampung halaman. Semangat mengaji dan menjaga tradisi di tanah rantau ini sangat menyentuh hati Ricka.
Dari perjalanan ini, Ricka memetik hikmah mendalam: jarak, perbedaan bahasa, dan status minoritas bukanlah penghalang untuk belajar dan membumikan nilai-nilai Al-Qur'an. Justru di lingkungan asing inilah, ayat-ayat suci terasa lebih bermakna. Ricka juga merefleksikan bagaimana kedisiplinan, kebersihan, dan rasa hormat masyarakat Jepang sesungguhnya mencerminkan nilai-nilai luhur Islam, meskipun mereka bukan negara muslim. Pengalaman KKN Internasional ini tidak hanya memberikan perspektif baru, tetapi juga memperteguh semangat Ricka untuk terus menebar manfaat dan kebaikan, di mana pun ia berada.
Ricka