Dari MAKHA ke MAQHA: Ngopi Penuh Inspirasi, Prof. Abdul Mustaqim Ajak Mahasiswa Indonesia di Kairouan Menghidupkan Tradisi Intelektual Al-Qur’an
Ada kelakar ringan yang mengawali perjumpaan akademik Prof. Dr. H. Abdul Mustaqim, M.Ag., dengan mahasiswa Indonesia di Kairouan, Tunisia. Ketika membaca istilah MAKHA, ia berkelakar, bagaimana jika huruf K diganti dengan Q, sehingga menjadi MAQHA? Dalam bahasa Arab, maqhā (مقهى) berarti kedai kopi. “Kalau MAKHA dibaca dengan Q, jadinya MAQHA, tempat ngopi,” demikian kira-kira kelakarnya. Ha ha!
Bagi Prof. Abdul Mustaqim, permainan kata tersebut bukan sekadar humor. Ada pesan menarik di balik tradisi ngopi: ngobrol penuh inspirasi. Kedai kopi bukan hanya tempat menikmati minuman, tetapi juga ruang perjumpaan, pertukaran gagasan, dan percakapan yang dapat melahirkan pemikiran segar. Suasana akrab semacam inilah yang mewarnai pertemuan bersama mahasiswa Indonesia di Kairouan, yang berlangsung dalam rangkaian kunjungan akademiknya ke Tunisia.
Kunjungan Guru Besar Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tersebut merupakan bagian dari agenda akademik dalam program Visiting Professor, pengajaran, dan riset kolaboratif di Universitas Zaitunah, Tunisia. Di sela-sela agenda itu, ia menyempatkan diri bertemu mahasiswa Indonesia di Kairouan untuk berbagi pengalaman akademik sekaligus mendiskusikan perkembangan studi Al-Qur’an dan tafsir.
Kegiatan yang berlangsung bersama Badan Pengurus Cabang (BPC) MAKHA Kairouan ini menjadi ruang dialog yang mempertemukan pengalaman belajar mahasiswa Indonesia di Tunisia dengan pemikiran kontemporer dalam kajian Al-Qur’an. Dalam suasana yang hangat dan terbuka, pembicaraan berkembang dari pengalaman menempuh pendidikan di luar negeri menuju persoalan yang lebih mendasar: bagaimana menjadikan Al-Qur’an tetap hidup sebagai sumber inspirasi dalam menghadapi perubahan zaman?
Menghidupkan Al-Qur’an: Tidak Berhenti pada Teks
Mengangkat tema “Urgensi, Pendekatan, dan Isu-Isu Kontemporer dalam Studi Al-Qur’an dan Tafsir,” Prof. Abdul Mustaqim mengingatkan bahwa interaksi dengan Al-Qur’an tidak cukup berhenti pada aktivitas membaca dan menghafal. Al-Qur’an perlu dipahami sebagai petunjuk yang menginspirasi manusia untuk membaca realitas, merenungkan persoalan kehidupan, dan merumuskan jawaban yang bertanggung jawab.
Menurutnya, penafsiran Al-Qur’an membutuhkan dua hal sekaligus: kesetiaan terhadap teks dan ketajaman dalam memahami maksud serta tujuan yang dikandungnya. Teks tidak boleh dilepaskan dari pesan yang hendak disampaikan, sementara upaya menggali pesan Al-Qur’an juga tidak boleh mengabaikan landasan tekstualnya.
Untuk menegaskan hubungan antara teks dan maqāṣid, ia menyampaikan sebuah kaidah:
مَنْ أَخَذَ بِالنُّصُوصِ دُونَ الْمَقَاصِدِ فَهُوَ مُخْطِئٌ، وَمَنْ أَخَذَ بِالْمَقَاصِدِ دُونَ النُّصُوصِ فَهُوَ مُخْطِئٌ، وَمَنْ أَخَذَ بِالنُّصُوصِ وَفَهِمَ مَقَاصِدَهَا وَجَمَعَ بَيْنَهُمَا فَهُوَ مُصِيبٌ.
Artinya: “Siapa yang berpegang pada teks-teks tanpa memperhatikan maqāṣid, ia keliru; siapa yang berpegang pada maqāṣid tanpa berpijak pada teks, ia juga keliru; dan siapa yang berpegang pada teks, memahami maqāṣid-nya, serta memadukan keduanya, dialah yang tepat.”