Ingin Memajukan Keilmuan Tafsir, Dosen Ilmu Al-Qur'an Dan Tafsir Uin Sunan Kalijaga Meminta Nasehat Kepada Prof. Quraish Shihab, MA

Sekitar pukul 16.00 WIB, kami berjalan ke arah barat, dari belakang masjid Al-Barkah, Jakarta. Lurus. Hanya sekitar sepelemparan batu, tampak sebuah rumah putih di kanan jalan, sederhana, asri dinaungi tanaman rimbun halamannya. Di seberang jalan tampak sebuah rumah cukup besar dengan desain bata terakota warna coklat artistik menyuguhkan tampilalan yg elegan.

"Mohon maaf, ini benar rumahnya Abi Quraish shihab?" Tanya mas Muammar, salah rombongan kami yang juga dosen muda UIN Jogja, kepada seorang laki-laki paruh baya yang ada di depan rumah putih sederhana tadi.

"Benar." Jawabnya.

"Kita rombongan dari prodi tafsir UIN Jogya sudah janjian dengan mbak Nana untuk bertemu Abi Quraish Shihab sore ini"

"Baik, silahkan masuk."

Karena cuaca Jakarta panas saat itu, kami segera masuk dan mencari titik yang adem: tanpa karpet. Segera kita duduk lesehan melantai di keramik. Tidak berselang lama kemudian, sosok yang kami tunggu-tunggu pun muncul dari dalam rumah.

"Aduh, kalian ini. Kok duduk di bawah, di lantai begitu. Ayo naik. Naik. Duduk di sofa. Ini bukan keraton," sapa beliau hangat, seolah sudah kenal lama kami. Padahal ini baru pertama kali kami bertemu langsung dengan beliau.

"Bagaimana kabar Abi? Sehat selalu, nggih?" Sapa saya.

" Alhamdulillah, sehat. Ya sehatnya orang yang sudah tua, ya begini ini."

"Begini Abi. Sebagai junior di bidang studi tafsir, kami bermaksud untuk silaturrahmi ke sini, selain juga untuk meminta nasehat-nasehat dari Abi Quraish untuk bekal kami mengembangkan prodi Ilmu Tafsir di UIN Sunan Kalijaga. Kalau boleh tahu, bagaimana resep dan tips Abi Quraish tetap bisa produktif menulis di usia yang sudah sepuh seperti sekarang ini."

"Begini. Saya ini tiap hari tidak kurang dari 6 jam utk menulis. Minimal 6 jam. Dari habis subuh, mulai jam 5 s/d jam 9 saya nulis. Jam 9 saya jeda sarapan. Saya bikin sarapan sendiri. Nanti jam 9.30 saya nulis lagi s/d jam 12, lalu istirahat sampai jam 15. Jam 15 sampai menjelang Maghrib menulis lagi."

"Wah, luar biasa. Nyaris seperti jam kerja PNS aktif. Resepnya supaya bisa kuat seperti itu bagaimana, Abi?" Tanya saya.

"Ada 3 prinsip yang saya pegangi saat menulis. Pertama, saya menulis sesuatu yang memang saya anggap perlu dan penting. Kedua, saya menulis sesuatu yang bahan-bahannya sudah saya punya dengan lengkap. Referensinya sudah mencukupi. Ketiga, ketika menulis saya selalu berusaha menulis dengan serius, sebenar-benarnya, dan semaksimal mungkin, namun masih menyisakan ruang untuk dikoreksi orang lain."

"Saya sedang menulis buku tentang kisah-kisah Alquran. Naskah setelah selesai saya tulis, saya kirim ke penerbit. Dicoret-coret oleh editornya. Diberi catatan-catatan ini itu. Ya saya terima," lanjut beliau.

Kurang lebih satu setengah jam kami berdiskusi dengan mendalam. Beberapa dari kami bergantian bertanya kepada beliau. Mulai dari kenapa dalam tafsir al-Misbah beliau analisis bahasanya terasa kuat sekali. Juga soal adam dan teori evolusi. Juga tentang tafsir al-ra'd (petir) yang di sebagian riwayat klasik ditafsirkan sebagai cambuk malaikat, sementara dalam fisika modern dijelaskan bahwa petir itu muncul karena gesakan antar awan yang memiliki potensi listrik yang berbeda.

Ketika hendak pamit, kami memohon agar beliau berkenan mendoakan kami, agar prodi IAT UIN suka selalu diberi kemampuan untuk membawa kemajuan dalam bidang studi Quran di Indonesia dan dunia.
"Mintalah juga doa kepada ibumu, orang tuamu. Selagi orang tua ada, mintalah doa kepada mereka. Sebab setiap doa orang tua kepada anaknya, pasti adalah doa yang tulus dan ikhlas. Beda dengan doa orang lain." Jawab beliau, membuat kami terdiam beberapa detik. (Ali Imron)