Teladani Ulama, LSQH Istiqomahkan Kajian Kitab Turats

Kamis (11 April 2019). Setelah beberapa waktu lalu mengkhatamkan kitab Juz’un Fi Ulum al-Hadis karya Abu ‘Amr al-Dani, Laboratorium Studi al-Qur’an dan Hadis (LSQH) UIN Sunan Kalijaga kembali membuka kajian baru dengan kitab yang berbeda. Kali ini dan seterusnya, kitab yang dikaji berjudul Al-Ibanah ‘an Ma’anil Qira’at karya Al-Makky bin Abi Thalib Al-Qaisiy yang membahas tentang ilmu qiraat.

Kajian kitab ini merupakan kegiatan rutinan setiap Hari Kamis yang diampu oleh Ustadz Abdul Jalil, M.Si, seorang dosen Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga, dan kitab al-Ibanah ini merupakan kitab keempat setelah kajian-kajian sebelumnya mengkhatamkan tiga kitab: Juz’un Fi Ulum al-Hadis karya Abu Amr, Al-Fauzul Kabir Fi Ushul al-Tafsir karya Al-Dihlawiy, dan Muqaddimah Fi Ushul al-Tafsir karya Ibnu Taimiyah. Di samping meneladani para ulama terdahulu, tentu saja kajian kitab ini bertujuan untuk memperdalam wawasan keilmuan turats para mahasiswa, terutama terkait keilmuan al-Qur’an dan Hadis.

Pada pertemuan perdana ini, beliau –Ustadz Abdul Jalil- membuka kajiannya dengan membaca muqaddimah kitab al-Ibanah yang berisi riwayat hidup dari pengarangnya, Makky al-Qaisiy. Dalam pemaparannya, Ustadz Jalil menjelaskan bahwa Makky al-Qaisiy merupakan seorang ulama asal Cordoba yang hidup di abad ke-5 Hijriah, yang memiliki peran penting dalam perkembangan ilmu qiraat. Karyanya di bidang qiraat, dinilai sangat berkontribusi karena banyak dinukil oleh ulama-ulama setelahnya, salah satunya Ibnu al-Jazari, seorang ulama yang dianggap memiliki otoritas tertinggi di bidang qiraat pada zamannya.

Makky Al-Qaisiy merupakan seorang yang haus ilmu. Terlihat, sejak kecil hingga dewasa, umurnya dihabiskan dengan mengembara kesana kemari untuk menuntut ilmu kepada para ulama. Bahkan dikatakan, lebih dari tiga kali ia berkunjung ke Mesir untuk belajar pada para ulama di sana, di antaranya kepada Ibnu Ghalbun yang juga seorang ahli qira’at. Tak heran, di sisa-sisa umurnya, Makky Al-Qaisiy berhasil menulis karya lebih dari 80 kitab di berbagai bidang keilmuan. Dengan penjelasan Ustadz Jalil di pertemuan perdana ini, seakan memberikan motivasi dan semangat baru bagi para mahasiswa yang hadir untuk terus istiqamah dalam menuntut ilmu. Persis, seperti pesan terakhir yang beliau sampaikan sebelum menutup pengajian, bahwa pelajaran yang bisa diambil dari biografi Makky Al-Qaisiy ini ialah semangat ngajinya, “maka mari kita teladani. Teruslah mengaji! di mana pun dan kapan pun” tutur belau. (Alan Juhri, IAT semester 6)