Dosen Prodi IAT UIN Sunan Kalijaga Diundang dalam Asian Campus Ministry Forum di Jepang

Pada 11-15 Maret 2019 Dosen Prodi IAT UIN Sunan Kalijaga dan Direktur Laboratorium Studi al-Qur’an dan Hadis (LSQH), Ahmad Rafiq, Ph.D, diundang sebagai salah satu narasumber dalam Asian Campus Ministry Forum di Tokyo, Jepang. Acara yang merupakan kerjasama dari International Christian University dan United Board ini mengumpulkan para pengelola campus ministry (badan pengembangan kehidupan spiritual kampus) yang tergabung dalam United Board untuk saling belajar dan berefleksi, serta berbagi ide-ide inovatif. Para perwakilan institusi anggota juga berencana membuat platform yang memfasilitasi para chaplain dan pengelola campus ministry, terutama yang berada dalam regional yang sama, untuk saling belajar dan memberi mutual support.
Forum ini diselenggarakan selama tiga hari dengan tema besar “The Role of Campus Ministry in a Multireligious Context” (peran badan rohani kampus dalam konteks keragaman agama). Abah Rafiq, sapaan akrab beliau, diundang untuk berbagi tentang strategi campus ministry dalam menghadapi tradisi keagamaan yang beragam, tentunya dari perspektif kampus Islam di Indonesia. Beliau menjelaskan bahwa dalam konteks universitas Islam dan Indonesia, agak sulit untuk menemukan campus ministry sebagai sebuah badan formal dengan para chaplain (konsultan rohani) sebagai anggotanya. Bagi Muslim, individu yang berperan sebagai chaplain adalah yang dipercaya secara intelektual dan spiritual, atau mudahnya adalah ustaz, kyai, atau bahkan sesepuh. Tokoh-tokoh ini umumnya bergerak dalam institusi di luar institusi formal kampus.
Dengan menyampaikan materi ini, beliau melengkapi diskusi yang juga menghadirkan perspektif Hindu (Dr. Lakshmi Priya Daniel, Stella Maris College) dan Buddha (Dr. P. Boonchuay, Maha Chulalonkorn University). Selain berbicara tentang langkah-langkah strategis, forum ini juga memberi perhatian yang cukup besar terhadap isu-isu yang berkembang dewasa ini: identitas dan seksualitas, stress dan kesehatan mental, dan trauma healing. Hasil diskusi forum regional Asia ini kemudian akan didiseminasikan pada para institusi anggota United Board.
United Board sendiri merupakan organisasi non-pemerintah non-profit yang berbasis di Amerika dan Hong Kong, dan beranggotakan lebih dari 80 institusi dari 14 negara di seluruh Asia. Organisasi yang dipimpin oleh Judith A. Berling sejak 2018 ini bermisi untuk membangun pendidikan tinggi Kristen yang ekumenis dan inklusif. Dengan fokus yang lebih ditujukan pada para pendidikan tinggi (higher education), organisasi ini memiliki keinginan besar untuk menghidupi spirit ajaran kasih dan kesetaraan antar tradisi keagamaan dan sosial. Ia menarik para ilmuan untuk keluar dari menara gading dan bersentuhan dengan kehidupan nyata masyarakat. (M. Dluha Luthfillah)