Dua Mahasiswa dan Alumni Prodi IAT Menjadi Imam di Jepang (2)

Pada bulan Ramadhan tahun ini, Mohammad Taufikurohman, mahasiswa Prodi IAT tingkat akhir, dan Muhmmad Dluha Lutfillah, alumni Prodi IAT yang saat ini sedang menyelesaikan program Master di Sekolah Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, terpilih untuk menjadi imam masjid di Jepang. Simak cerita dan refleksi Taufik berikut ini:

Konsep Islam di Jepang

Selama bertugas di Masjid Indonesia Tokyo, saya menetap di rumah seorang pejabat KBRI, Pak Dian Wahdiana, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Atase Kementerian Perhubungan. Kesempatan tinggal di rumah Pak Dian juga sangat saya syukuri karena memberi kesempatan untuk mengamati keseharian masyarakat Jepang di kota Tokyo. Dari sinilah saya menilai bahwa konsep Islam ternyata sudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang.

Nilai-nilai Islam itu antara lain, kebersihan, kedispilinan, ketertiban dan tepat waktu. Ketika baru tiba di Tokyo, saya langsung mengagumi suasananya yang nyaman karena setiap sudut kota terlihat bersih. Dalam hati saya menilai, wajar saja Tokyo bersih karena statusnya sebagai ibukota negara sekaligus pusat bisnis Jepang. Tapi ternyata bukan hanya Tokyo yang bersih. Ketika saya mendapat undangan untuk mengisi pengajian maupun sholawatan di luar Tokyo pun ternyata sama bersihnya dengan Tokyo. Tak ada sampah berceceran. Hal itu sudah saya amati sejak dalam perjalanan dari Tokyo ke beberapa kota tersebut. Dari dalam kereta saya bisa menyaksikan begitu bersihnya Jepang meski bukan di dalam kota besar.

Saya jadi teringat konsep kebersihan dalam Islam. Agama Islam mengajarkan kepada umatnya untuk selalu bersuci dan bersih baik lahiriah maupun batiniah. Tapi ternyata di Jepang secara lahiriah sudah diterapkan konsep Islam tersebut.

Dalam hal kedisiplinan, masyarakat Jepang juga sudah menerapkannya di kehidupan sehari-hari. Setiap aturan yang dikeluarkan, baik oleh pemerintah maupun perusahaan selalu ditaati dengan sungguh-sungguh oleh masyarakat. Tak ada yang berani melanggar peraturan tersebut meski tidak dalam pengawasan petugas yang berwajib dari pemerintah atau perusahaan. Dalam Islam, setiap umatnya dituntut untuk disiplin dalam menerapkan hukum-hukum Islam yang sudah ditetapkan Allah dan Rasulullah SAW.

Kedisiplinan ini seperti sudah membudaya sehingga melahirkan ketertiban dalam kehidupan masyarakat Jepang. Perihal lalu lintas misalnya, tak ada yang berani menerobos lampu merah meski dari arah lain sama sekali tidak ada kendaraan yang melintas.

Mengenai konsep waktu, Islam mengajarkan agar tidak membuang waktu dengan hal yang percuma meski hanya satu menit. Hal inipun sudah diterapkan oleh masyarakat Jepang dengan menghargai waktu. Dalam bidang pekerjaan, jika ada pekerja Jepang yang datang terlambat walau satu menit, maka ia lebih baik pulang. Di samping merasa malu, memang semua perusahaan di Jepang menerapkan kebijakan tidak membolehkan masuk karyawannya yang datang terlambat.

Hal lain yang membuat saya kagum dari sikap masyarakat Jepang adalah mentalnya yang tegar dan tidak pernah meminta belas kasihan. Contoh yang saya alami secara langsung adalah ketika saya naik kereta cepat. Saya bersama Zaki-san berangkat dari stasiun Meguro di Tokyo menuju Nigata. Di dalam kereta yang kami tumpangi, ada seorang kakek tua berdiri karena tidak mendapat tempat duduk. Sementara saya dan Zaki-san mendapat tempat duduk yang nyaman.

Saya berniat akan memberikan kakek tua tempat duduk saya, karena Islam mengajarkan untuk menghormati orang tua, wanita, atau orang lain dengan cara membantu mereka jika mengalami kesulitan. Namun, Zaki-san mengingatkan bahwa hal itu mungkin akan membuat sang kakek tersinggung.

Karena penasaran, saya kembali bertanya mengapa bantuan yang diberikan orang lain bisa membuat mereka tersinggung. Setelah dijelaskan baru saya mengerti bahwa orang Jepang tidak ingin dianggap lemah. Meski sudah tua, kakek tersebut masih memiliki harga diri untuk tetap berdiri.

Salah satu hikmah dari Jepang, kehidupan sosial mereka yang luar biasa. Budaya disiplin, menghargai orang lain, dan bersih. Harusnya kita bisa melihat itu lebih baik di negeri-negeri muslim. Karena agama kita mengajarkan hal-hal itu secara lebih detail

Cemburu rasanya sebagai muslim ketika melihat mereka terbiasa antri dalam segala aktifitas. Tidak ada sampah sama sekali yang berceceran. Bahkan mereka sabar dan jeli untuk membuang sampah ke tong sampah yang berbeda-beda. Begitu juga budaya senyum dan menghargai orang lain. Mereka sangat menjaga agar tidak mengganggu orang lain, bahkan sampai soal suara klakson mobilnya. Mereka terbiasa membersihkan sisa makanan habis makan di restoran (self service) dan jarang ada yg mubazir. Inilah budaya yg harusnya melekat pada masyarakat muslim kita. Karena social behavior ini salah satu ajaran Nabi kita

Saya sendiri menyadari bahwa menjadi minoritas di negeri atheis memang tidak menyenangkan karena banyak keterbatasan dalam melakukan ibadah. Maka, saya sangat terharu melihat semangat kaum muslim di Jepang, baik muslim asal Indonesia, asli Jepang maupun dari negara lain dalam menjalankan ibadah. Hal ini juga memberi saya semangat untuk lebih giat berdakwah. Saya baru menyadari bahwa ternyata ada tantangan berdakwah yang jauh lebih berat dibandingkan apa yang saya lakukan sehari-hari di Indonesia.

Pengalaman ini sangat berharga bagi saya sebagai bekal dalam memberi motivasi kepada kaum muslim di Indonesia yang sebetulnya jauh lebih mudah menjalankan agama, namun justru masih banyak yang lalai.

Maka, ketika kembali ke Jakarta pada 09 Agustus 2018, saya simpan kenangan di Jepang di dalam hati dan tidak akan saya lupakan pengalaman ini sebagai bagian dari sejarah hidup saya di dunia dakwah. (Muhammad Taufikurrahman)