Dua Mahasiswa dan Alumni Prodi IAT Menjadi Imam di Jepang (1)

Pada bulan Ramadhan tahun ini, Mohammad Taufikurohman, mahasiswa Prodi IAT tingkat akhir, danMuhmmad Dluha Lutfillah,alumni Prodi IAT yang saat ini sedang menyelesaikan program Master di Sekolah Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, terpilih untuk menjadi imam masjid di Jepang. Simak cerita dan refleksi Taufik berikut ini:

Safari Dakwah, Melihat Wajah Islam di Negeri Sakura

Nilai-nilai ke-Islaman ternyata bisa juga terlihat dalam kehidupan masyarakat di negara yang tidak mengenal Tuhan. Hal yang cukup mengejutkan ini saya temui di Jepang ketika didaulat menjadi wakil Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama dalam Program Imam Muda Safari Dakwah Ramadhan. Kebetulan, saya dikirim ke “Negeri Matahari Terbit” bersama rekan satu almamater saya Muhmmad Dluha Lutfillah untuk melakukan dakwah selama kurang lebih tiga Bulan yang bertepatan dengan Ramadhan 1439 H lalu atau 14 Mei hingga 09 Agustus 2018.

Terus terang, saya belum pernah ke Jepang dan sedikit pun tidak bisa mengerti Bahasa Jepang. Namun, dengan modal kemampuan Bahasa Inggris dan tekad menyiarkan Islam, saya terima tugas dari LDNU dengan penuh semangat. Bagi saya, tugas ini adalah sebuah tantangan dalam dunia dakwah yang saya geluti.

Maka, pada 14 Mei 2018 sekitar pukul 23.30 WIB saya terbang ke Jepang. Perjalanan panjang selama sembilan jam saya lalui dengan tidur, diselingi makan sahur di dalam pesawat karena saat itu sudah dalam bulan Ramadhan.

Setibanya di Bandar Udara Internasional Haneda, Jepang, hari sudah siang. Saya dijanjikan akan dijemput oleh seorang pengurus Masjid Kabukicho, -masjid dimana saya akan mengahabiskan separuh lebih waktu ketika di Jepang, Pak Mustaqim Suliyanto, yang juga merupakan anggota PCINU Jepang. Proses masuk ke Jepang sejak turun pesawat hinggalobbytidak terlalu rumit, karena sebelumnya saya sudah diberi arahan teknis bagaimana agar tidak terlalu lama berurusan dengan pihak imigrasi bandara. Sempat sedikit muncul rasa was-was ketika proses tanya jawab dengan petugas imigrasi karena keterbatasan bahasa. Petugas bandara tidak terlalu faham dengan Bahasa Inggris sedangkan saya sendiri hanya mengerti Bahasa Jepang sekedar “Terimakasih” dan “Maaf”. Namun, semuanya berakhir dengan lancar. Alhamdulillah semua proses keimigrasian akhirnya selesai.

Pak Mustaqim yang sudah menunggu di lobby bandara pun berhasil saya temui setelah berusaha mengontaknya berkali-kali melalui telepon genggam. Segera kami meninggalkan bandara menuju Masjid Kabukicho dengan menggunakan Mobil. Dalam perjalanan, saya tak berhenti mengagumi Jepang. Suasana Negeri Sakura ini persis seperti yang saya bayangkan. Sepanjang mata memandang, semua terlihat bersih dan rapi. Kemajuan teknologi yang jauh melampaui Indonesia juga saya rasakan saat naik kereta cepat. Mulai dari pembelian tiket hingga sistem pengoperasiannya dilakukan secara otomatis.

Entah karena kecepatan kereta yang luar biasa atau saya terlalu banyak mengagumi Jepang hingga tak merasakan perjalanan, sebentar saja kami sudah berada di tempat Tujuan.. Padahal, jaraknya cukup jauh dari Bandara Haneda. Sesuai dengan invitasi kedutaan disebutkan bahwa selama bulan Ramadhan saya akan tinggal di apartemen seorang pemuda asli Jepang yang telah menjadi Muallaf, Muhammad Zaki Tazuke. Tak hanya kami berdua, di aparteman Zaki-san juga tinggal seorang muslim dari negara tirai bambu, Sulaiman-san, juga dua WNI yang sedang menempuh pendidikan di Jepang.

Selama Bulan Ramadhan saya diberi amanat untuk menjadi Imam di Masjid Al-Iklhas Kabukicho. Tak jauh dari apartemen yang saya tempati, untuk menuju Masjid saya terbiasa berjalan kaki selama 15 menit. Kawasan Kabukicho di Shinjuku, Tokyo sendiri dikenal sebagai daerah yang dipadati oleh banyak bar dan klub malam. Tapi, di salah satu sudut daerah remang-remang itu berdiri Masjid Kabukicho yang dikelola oleh sejumlah orang Indonesia. Sebuah Masjid yang tak seperti layaknya bangunan Masjid, Masjid Kabukicho terlihat hanya seperti bangunan ruko tiga lantai. Lantai 1 ada semacam ruang serba guna dan ada tempat untuk berwudhu. Imaman Masjid dan podium sederhana ada di lantai 3, dan ruang untuk sholat dilantai 2 dan 3. Kenyamanan masjid itu terasa meski tak terlalu besar. Namun sulitnya mencari masjid di tengah keramaian kota di Negri Sakura itulah yang menjadi unik.

Meski tak terlalu besar, Masjid ini tak pernah sepi dari kunjungan jamaah. Di Masjid ini, saya sendiri menghabiskan waktu satu bulan bersama jamaah-jamaah yang mayoritas berasal dari Warga Negara Indonesia. Mereka kebanyakan merupakan kenshusei (pegawai magang). Selain itu ada juga beberapa dari jamaah yang merupakan mahasiswa-mahasiswi yang sedang menempuh pendidikan di berbagai Universitas di Jepang. Tak jarang juga Warga Negara Asing dari berbagai penjuru dunia seperti Pakistan, Iran, dan Malaysia yang mampir beribadah di Masjid ini.

Seperti halnya suasana Ramadhan di Indonesia, saya bersama pengurus Masjid berupaya untuk mengisi bulan ramadhan dengan berbagai rangkaian Ibadah. Selain Sholat Tarawih berjamaah, kami juga mengadakan tadarus membaca Qur’an bersama, Kultum, serta kajian kitab kuning. Tak hanya itu, di masjid ini juga rutin diadakan yasinan dan tahlilan setiap dua kali dalam sebulan. Kami pun bahagia dan bersyukur karena setiap rangkaian ibadah tersebut senantiasa dipadati oleh jamaah. Khususnya ketika kajian kitab kuning, antusias jamaah yang ingin mengenal kitab kuning dan memperdalam pemahaman keislamannya sangat perlu diapresiasi. Tanya jawab seputar fiqih pada saat itu hampir seperti suasana bahtsul masail ala pesantren.

Alhamdulillah, dakwah dapat berjalan lancar sesuai jadwal, bahkan mendapatkan tambahan jadwal baru. Banyak permintaan mengisi pengajian dari komunitas muslim dari berbagai daerah di luar Tokyo, seperti Gunma, Kyoto, Minato, Ibaraki, Fukushima, Kandatsu, Nigata dan lain lain. Dari sesi dakwah di komunitas inilah saya mendapat banyak informasi tentang Jepang yang belum saya ketahui sebelumnya. Sebab, jumlah anggota komunitas muslim yang berkumpul dalam satu sesi pengajian tidak banyak, sehingga membuka kesempatan untuk banyak berbincang satu sama lain baik masalah agama atau masalah lain.

Pada bulan kedua barulah saya pindah ke Masjid Indonesia Tokyo di Meguro, Tokyo, Jepang setelah petugas yang mendampingi sudah datang. Alhamdulillah saya mendapatkan pelayanan yang cukup maksimal baik tempat tinggal, konsumsi maupun transportasi.

Dari Tokyo ini, kegiatan dakwah saya mulai berjalan dengan tertib sesuai agenda. Sasaran dakwah saya di Jepang antara lain, para mahasiswa muslim yang berasal dari berbagai negara termasuk Indonesia yang kuliah di sejumlah perguruan tinggi seperti Tokyo Institute of Technology, Gunma University, Sakito University dan Sekolah Republik Indonesia Tokyo. Metode dakwah yang saya sampaikan berupa diskusi, dialog dan ceramah atau tausiah.

Tausiah hanya dilakukan pada forum pengajian yang lebih kecil. Sementara forum yang lebih besar seperti seminar dan dialog, saya lebih banyak melontarkan tema-tema budaya Islam. Sebab, pemerintah Jepang memang tidak mengizinkan adanya proses dakwah agama tertentu dilakukan secara terbuka.

Jepang memang tidak mengenal konsep agama, karena sebagian besar masyarakatnya atheis atau tidak beragama. Meski disebutkan bahwa agama tradisional Jepang adalah Shinto, agama tersebut sudah tidak dianut lagi. Saat ini Shinto tak lebih dari warisan leluhur sebagai bagian dari sejarah Jepang yang tidak lagi membudaya.

Namun, pemerintah maupun masyarakat Jepang memiliki toleransi yang tinggi terhadap umat beragama. Masyarakat Jepang maupun pendatang dari negara lain yang memiliki agama tidak dilarang melakukan ritual keagamaannya selama tidak mengganggu ketertiban atau kenyamanan orang lain yang berada di sekelilingnya.

Jika ada ritual keagamaan yang dilakukan di satu rumah, namun dianggap terlalu bising sehingga mengganggu penduduk lain, misalnya, penduduk yang merasa targanggu bisa melaporkannya kepada petugas keamanan dan petugas akan membubarkannya. Bukan karena kegiatan ritualnya, tapi lebih karena adanya hak kenyamanan orang lain yang terganggu. Berbeda halnya jika ritual keagamaan tersebut dilakukan dengan tenang dan tidak menganggu kenyamanan penduduk lain, maka tidak akan ada yang keberatan dengan ritual tersebut.

Suasana kekeluargaan lebih saya rasakan di Hari Raya Idul Fitri yang di Jepang jatuh pada tanggal 15 Juni 2018. Saat itu KBRI lebih ramai lagi didatangi masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok Jepang. Bahkan ada yang sengaja menginap sejak satu hari sebelumnya untuk bermalam takbiran di KBRI. Sejak malam takbiran hingga selesai shalat Ied, makanan khas Indonesia selalu terhidang untuk disantap. Hal inilah yang mampu mengobati rasa rindu masyarakat Indonesia yang bermukim di Jepang, termasuk saya, meski keberadaan saya di Jepang hanya kurang dari satu bulan.

Karena banyaknya jamaah yang datang, sementara ruang yang tersedia di KBRI terbatas, maka shalat Idul Fitri dibagi menjadi dua gelombang, seperti tahun-tahun sebelumnya. Gelombang pertama dimulai pukul 7.30 waktu setempat. Sementara gelombang kedua dimulai pukul 8.30 pagi. Kebetulan saya diminta menjadi imam dan khotib pada shalat Id gelombang kedua. (Mohammad Taufikurohman)