PENGALAMAN MAHASISWA IAT MELAKUKAN PRAKTIK OBSERVASI GERHANA BULAN SUPER BLOOD MOON

Pada hari Rabu 26 Mei kemarin, saya mengajak beberapa mahasiswa prodi Ilmu Al-Qur'an Tafsir UIN Sunan Kalijaga melakukan praktik observasi gerhana bulan total Super Blood Mood. Mereka bergabung dengan Jogja Astro Comunity, di Griya Antariksa.

Kegiatan ini merupakan bagian dari kuliah mata kuliah Tafsir Ayat dan Hadis Kealaman, yang diampu oleh Dr. Ali Imron, MSI. Mata kuliah ini sendiri bersifat wajib, namun praktik observasi ini bersifat opsional, mengingat masih dalam suasana pandemi yg menyebabkan pemerintah melarang adanya kerumunan massa.

Dengan melakukan praktik ini, diharapkan mahasiswa Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mendapatkan pengalaman baru dalam memahami ayat-ayat Alquran maupun hadis-hadis Nabi yg berbicara tentang fenomena-fenomena kealaman.

Sebagaimana diketahui oleh publik, ada banyak ayat maupun hadis Alquran yang berbicara tentang alam semesta. Selama ini para mahasiswa ilmu tafsir lebih banyak mendapatkan pengetahuan tentang hal-hal seperti ini dari literatur tertulis, khususnya buku-buku tafsir saintifik. Apalagi bila mereka berasal dari tradisi pesantren yang identik dengan kitab-kitab kuning klasik.

Melalui praktik observasi seperti ini, mahasiswa mendapatkan pengalaman baru dan ikut merasakan atmosfir di tengah-tengah komunitas astronom amatir langsung. Apalagi moment gerhana super blood mood kali ini termasuk event langka, karena ia terjadi saat bulan dalam posisi paling dekat dengan bumi.

Dalam acara ini pendiri JAC, bapak Mutoha Arkanuddin yang juga menjadi pengurus BHR (Badan Hisab Rukyat) RI, memberikan penjelasan secara teoritis hal-hal yang terkait dengan gerhana super blood moon ini.

"Pak, umbra dan penumbra itu apa, pak?" Tanya Zaky, salah seorang mahasiswa, dengan pelan kepada saya.
"Umbra dan penumbra itu sama-sama bayangan bumi, ms. Hanya saja ada beda sedikit antara keduanya.
"Umbra itu bayangan utama yang terbentuk di belakang planet bumi, dan jatuh ke bulan akibat sinar matahari terhalang oleh bumi. umbra ini kemudian menyebabkan bulan hilang dari pandangan mata manusia di bumi."

"Sedang penumbra adalah daerah di sekitar umbra. Penumbra disebut juga sebagai bayangan tambahan atau bayangan samar-samar yang wilayahnya lebih besar daripada umbra. Jadi sebelum terjadi gerhana umbra (yg di bumi terlihat bulannya seolah "krowak") sebenarnya sebelumnya sudah terjadi gerhana penumbra.

Setelah selesai, mahasiswa yang ikut observasi saya hubungi untuk meminta data foto yang telah mereka ambil sebelumnya.

"Maaf pak, saya kemarin malah tidak mengambil foto sebagai dokumentasi. Ini malah saya dikirimi teman saya yang menonton TV one," jawab salah seorang mahasiswa sambil menunjukkan gambar dirinya terekam oleh salah satu stasiun TV swasta nasional.

Ya, lumayan. Yang penting para mahasiswa dapat mengambil ilmu dari kegiatan ini.

Mau ikut merasakan pengalaman yang sama? Yuk gabung dengan prodi ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Jogja.