POLIGAMI DAN AYAT-AYAT YANG TIDAK POPULER

"Saya mau bertanya kepada kepada kedua narasumber. Di Indonesia perdebatan tentang poligami sering terjadi. Otomatis ayat-ayat tentang poligami juga sering muncul dan dikutip pihak aktifis-aktifis pro poligami. Kalau di Turki kondisinya bagaimana? Apakah hal yang Sama juga terjadi?"

Pertanyaan ini dilontarkan salah seorang peserta dalam diskusi Monthly Forum yang diadakan Jurnal Ilmu-Ilmu Quran Hadis Prodi IAT UIN Jogja pada sabtu malam minggu, 20 Februari 2021, kemarin.


Munculnya pertanyaan ini sebenarnya adalah hal yang alami, mengingat di indonesia memang poligami sudah lebih sekedar urusan boleh atau tidak boleh, bahkan sudah menjadi "identitas" keislaman kelompok tertentu. Bahkan poster-poster tentang acara dauroh poligami disebarkan sama massifnya dengan penyebaran poster iklan biro haji dan umroh, seni grafisnya tak kalah modisnya dengan poster iklan sekolah level internasional.


Bahkan dalam kasus terbaru, perselingkuhan seorang vocalist dan keyboardis sebuah grup musik religi, juga muncul pembela yang menggunakan dalih bolehnya berpoligami. Padahal itu jelas zina, karena hubungan itu terjadi di luar ikatan nikah. Kalau tidak zina fisik, ya minimal zina hati. Ternyata yang sebegitu pun, di indonesia masih ada yang membela dengan menyeret-nyeret al-Quran. Ajaib bukan?
Tampil dua pembicara pada acara di atas adalah Mr. Zulfikri dari Uludag University, Turki, dan Mr. Mughzi Abdillah dari University of Ankara, Turki.


"Di Turki poligami itu sesuatu yang tabu. Ayat poligami di Turki itu tidak popular. Memang benar ada ayat tentang itu di al-Quran. Tapi tetap masyarakat di sini lebih menjunjung tinggi monogami. Jadi pembicaraan tentang poligami di Turki tidak seramai di Indonesia. Ada rasa Malu utk melakukan poligami di Turki," jawab ms Zulfikri sebagai pembicara saat itu.


Tak berselang lama, saat giliran ms Mughzi menjawab, ia menegaskan hal yang sama.


Mendengar jawaban ini, pikiran saya melayang, mengingat-ingat tentang ayat budak. Di al-Quran ayat tentang hal ini masih ada. Jelas tertulis dalam surat al-mukminun. Tapi jelas ayat ini tidak popular di indonesia.


Sebagai Muslim, saya kadang juga tidak enak bila ditanya kolega dari pemuka agama lain tentang ayat perbudakan ini. Tabu rasanya. Mempraktikkan perbudakan di zaman sekarang jelas akan menimbulkan badai penolakan dan kehebohan sosial.


Saya kemudian teringat kelompok ISIS di Timur Tengah. Untuk kelompok ini, perbudakan bukanlah hal yang tabu. Bagi mereka, jelas ini direstui Tuhan. Tidak heran Bila ayat-ayat perbudakan juga populer di kalangan mereka. Mereka bahkan membuka pasar untuk jual beli budak. Padahal yang diperbudak itu juga manusia-manusia seagama mereka: Islam.


Poligami dan perbudakan adalah dua hal yang biasa terjadi pada era ratusan bahkan ribuan tahun yg Lalu. Jadi tidak heran bila kitab suci yang turun ribuan tahun yang Lalu pun mencantumkannya. Dulu orang bisa punya ratusan istri, belum selirnya. Sebagaimana dulu juga biasa orang punya budak.Namun sering perubahan zaman, keduanya kini mulai ditinggalkan. Beberapa kelompok berkeras mencoba mempertahankannya dengan dalih teks kitab suci yang mereka tafsirkan secara tekstual.


Saya Lalu membayangkan hal ini. Ayat-ayat poligami tidak populer di Turki, tapi populer di Indonesia. Sementara Ayat-ayat perbudakan populer di negara ISIS, tapi tidak populer di indonesia.


Catatanya cuma satu: jadi pelaku atau korban? Bagi pelaku perbudakan, jelas akan merasakan enak. Diuntungkan. Tapi tidak enak bagi yang menjadi korban. Coba kalau bertukar posisi, mereka yang menjadi tuan itu berganti posisi menjadi budak, sementara si budak menjadi Tuan. Pasti pihak pertama tidak mau. Poligami juga sepertinya sama begitu. Enak hanya bagi pelaku, tapi tidak enak bagi pihak yang jadi korban.


Ala kulli hal, sebagai panitia, adalah kewajiban yang menyeangkan bagi kami untuk mengucapkan terima kasih kepada Mr. Zulfikri dan Mr. Mughzi yang sudah berkenan berbagi ilmu dan perspektif baru. Terima kasih kepada ratuan peserta yang sudah meluangkan waktu untuk ikut bergabung. Mohon maaf, sampai kuota zoom-nya tidak muat, karena banyaknya peserta yang mau ikut.


Sebelum saya akhiri. Insyaallah forum diskusi seperti ini akan rutin kami adakan secara online. Insyaallah bulan maret nanti kita akan membahas isu terbaru studi Quran di Jerman, dengan dua pembicara dari Jerman.


Monthly Forum pada bulan April Nanti juga tidak kalah keren, membahas tentang al-Quran dan teori evolusi. Pembicaranya Insyaallah dari Zayed University, Dubai.

Salam Hangat.
Dr. Ali Imron, S.Th.I, MSI