Para Ahli Dekolonisasi Al Quran dan Studi Paskakolonial bertemu dalam Penutupan Pekan Raya IAT 2026

YOGYAKARTA15 Oktober 2026 — Isu hegemoni pengetahuan Barat dalam kajian keislaman menjadi sorotan utama dalam puncak perhelatan Pekan Raya Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) 2026. Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) IAT Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUPI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sukses menggelar seminar nasional bertajuk“Decolonizing Qur'anic Studies: Reclaiming Traditions, Opening Dialogues”pada Kamis (15/10/2026). Bertempat di Convention Hall Lt. II UIN Sunan Kalijaga, forum akademik ini mengajak ratusan peserta untuk membongkar dan merekonstruksi cara pandang terhadap studi Al-Qur'an yang selama ini kerap didominasi oleh epistemologi dan warisan kolonial.

Rangkaian acara yang dimulai sejak pagi ini dibuka dengan kemeriahan kultural melalui persembahan Tari Nirmala. Dalam sambutannya, Dekan FUPI, Prof. Dr. H. Robby Habiba Abror, M.Hum.,Wakil Dekan III FUPI, Dr. Ahmad Salehudin, S.Th.I., M.A., bersama Ketua Panitia Nayla Shafwil Widad.

Ketua HMPS IAT Rifqi Kadir, menegaskan bahwa wacana dekolonisasi bukan sekadar kritik romantis terhadap masa lalu. Langkah ini merupakan ikhtiar nyata ruang akademik IAT untuk menempatkan tradisi intelektual Islam secara setara dan dialogis dalam kancah ilmu sosial-humaniora kontemporer.

Seminar ini sekaligus menjadi agenda penutup (closing) yang epik bagi serangkaian kompetisi dan diskusi Pekan Raya IAT 2026. Memasuki sesi diskusi inti yang dipandu oleh moderator Imas Lu’ul Jannah, M.A., diskursus semakin tajam melalui pemaparan Dr. Katrin Bandel. Pakar kajian pascakolonial dan sastra ini membedah bagaimana kolonialisme tidak pernah benar-benar mati, melainkan bermutasi menjadi neo-kolonialisme yang beroperasi melalui relasi kuasa, kapitalisme global, hingga dominasi kebudayaan (Eurosentrisme). Dr. Katrin memperingatkan bahwa upaya mendekolonisasi studi Al-Qur'an tidak boleh terjebak pada sikap reaksioner semata. Ia mengkritik fenomena Islamofobia yang sering kali direspons umat Islam dengan sikap apologetik berlebihan, seperti memaksakan pencocokan ayat Al-Qur'an dengan sains modern demi mendapat legitimasi Barat. Baginya, dekolonialitas sejati menuntut penggalian alternatif dari kekayaan tradisi masa lalu untuk merespons tantangan masa kini secara mandiri.

Gagasan tersebut kemudian diperdalam oleh Prof. Dr. Moch. Nur Ichwan, S.Ag., M.A., yang menyoroti lanskap metodologi sarjana Barat terhadap Al-Qur'an, mulai dari kajian linguistik hingga penempatan Islam dalam kacamata LateAntiquity. Prof. Nur Ichwan memetakan ketegangan akademik antara pendekatan Barat yang kerap mereduksi teks suci, dengan respons sarjana Muslim yang sering kali terjebak pada pembelaan doktrinal tertutup. Sebagai jalan keluar, ia menawarkan pendekatan dekolonial yang interrelasional. Melalui pendekatan ini, tradisi akademik Islam menolak tunduk pada otoritas Barat, namun tetap terbuka pada pembacaan kritis. Ia mencontohkan keluwesan sarjana Muslim klasik seperti Al-Biruni yang mampu mengkaji peradaban lain secara objektif dan kritis, sebuah spirit dialogis; atau sejarawan atau sejarawan Ibn Battuta telah memperluas makna-makna konseptual studi Islam untuk oenggunaan studi sosial, bahkan sebelum artikulasi konseptual Barat menemukan muaranya pada keilmuwan Modern. Kedua semangat ilmuwan Muslim inilah yang harus dihidupkan kembali oleh mahasiswa Prodi Ilmu Al Quran dan Tafsir saat ini.

Forum yang berlangsung dinamis ini diwarnai antusiasme tinggi dari para peserta saat sesi tanya jawab berlangsung. Menjelang siang, khidmatnya dialektika akademik perlahan melebur dalam suasana keakraban melalui penampilan bakat musik dari grupbandmahasiswa. Kemeriahan puncak Pekan Raya IAT 2026 ini akhirnya ditutup dengan seremoni pembagian hadiah bagi para pemenang lomba nasional, pengumuman Mahasiswa Berprestasi (Mapres) dan Dosen Terfavorit IAT, serta sesi dokumentasi bersama yang menandai keberhasilan regenerasi intelektual muda pembelajar Al-Qur'an. PPR 2026