"Mengapa Saya Menghafal?": Skripsi Abdul Rahim Hasyim Bedah Liku-Liku Mahasiswa Penghafal Al-Qur'an di Tengah Arus Kampus Modern
YOGYAKARTA– Bagaimana rasanya menjadi seorang penjaga ayat Al-Qur'an sekaligus bergulat dengan deadline tugas kuliah, rapat organisasi, dan dinamika sosial kampus yang plural? Pertanyaan krusial inilah yang dijawab oleh Abdul Rahim Hasyim, mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir (IAT) UIN Sunan Kalijaga, melalui skripsi inovatifnya. Dalam studinya yang berjudul "Mengapa Saya Menghafal Al-Qur'an?": Negosiasi Mahasiswa Penghafal Al-Qur'an di Divisi Tahfizh UKM Al-Mizan (Pendekatan Studi Naratif Living Qur'an), Rahim mendobrak kebiasaan riset tahfizh yang selama ini cenderung berfokus pada metode pengajaran atau aspek pedagogis-kuantitatif semata.
"Penelitian terdahulu tentang tahfizh Al-Qur’an umumnya masih berfokus pada siswa tingkat dasar–menengah atau santri pesantren. Pengalaman subjektif mahasiswa penghafal Al-Qur’an di perguruan tinggi, dengan segala tuntutan intelektual dan sosialnya, belum banyak digali," papar Rahim dalam ringkasan tulisannya.
Mendengar Suara Subjektif Melalui Pendekatan Naratif
Keunggulan utama dari riset Rahim terletak pada pilihan metodologinya. Ia menggunakan pendekatan Studi Naratif Living Qur'an. Melalui metode ini, Rahim tidak menempatkan informannya sebagai objek angka, melainkan sebagai penutur cerita. Ia melakukan wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap para aktivis Divisi Tahfizh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Al-Mizan. Melalui narasi-narasi hidup tersebut, Rahim berhasil mengungkap realita di lapangan: menghafal Al-Qur’an di lingkungan kampus bukanlah kondisi yang berlangsung otomatis.
"Ini adalah proses adaptasi dan negosiasi yang terus-menerus antara komitmen sebagai penghafal Al-Qur’an dan realitas kehidupan sebagai mahasiswa," jelasnya.
Temuan Kunci: Saat Struktur Hilang dan Komunitas Tumbuh
Riset ini menemukan adanya pergeseran relasi antara mahasiswa dan Al-Qur’an. Saat masih di keluarga atau pesantren, para penghafal didukung penuh oleh struktur eksternal yang formal. Namun, struktur itu runtuh seketika saat mereka memasuki dunia kampus yang plural dan sarat tuntutan. Menariknya, hambatan utama yang dihadapi mahasiswa bukan lagi kesulitan teknis menghafal, melainkan hilangnya struktur pendukung tersebut di tengah gunungan tanggung jawab akademik, organisasi, dan sosial.
Di sinilah peran penting komunitas seperti UKM Al-Mizan. "Dukungan bagi kelancaran bacaan Al-Qur’an ditemukan tidak lagi berasal dari struktur formal sebagaimana di keluarga atau pesantren, melainkan dibangun kembali secara kolektif melalui halaqah, setoran hafalan, dan muraja’ah bersama," ungkap Rahim.
Definisi Baru Keberhasilan Tahfizh
Skripsi ini ditutup dengan sebuah kesimpulan mendalam yang relevan bagi para penghafal Al-Qur'an di era modern. Menurut Rahim, keberhasilan tahfizh mahasiswa tidak diukur dari banyaknya jumlah hafalan yang bertambah. Indikator keberhasilan sesungguhnya adalah "kemampuan individu menjaga kesinambungan relasinya dengan Al-Qur’an di tengah kompleksitas kehidupan kampus," pungkasnya. Studi Abdul Rahim Hasyim ini tidak hanya memperkaya kazanah riset di lingkungan Prodi IAT, tetapi juga memberikan perspektif segar dan penguatan bagi seluruh mahasiswa penghafal Al-Qur'an untuk terus bernegosiasi dan istikamah di jalan mereka. (Tim Website IAT)