Diplomasi Angklung: Sisi Lain Riset Dosen UIN Sunan Kalijaga di Belgia

LEUVEN – Selama periode 2 Februari hingga 2 Juli 2026, Asep Nahrul Musadad, salah satu dosen di Prodi IAT UIN Sunan Kalijaga dan mahasiswa doktoral di kampus yang sama, akan menjalani program research traineeship di Arabistek en Islamkunde, Faculteit Letteren, KU Leuven, Belgia. Kehadiran Asep Nahrul Musadad di KU Leuven, Belgia, tidak hanya diisi dengan KEGIATAN RISETNYA TENTANG manuskrip kajian atas Ghāyat al-Ḥakīm karya Maslamah al-Qurṭubī (w. 964 M) dan Corpus Bunianum (korpus yang dinisbatkan kepada Ahmad al-Būnī dari abad ke-13 M) di Leuven, Leiden dan Paris. Di sela-sela jadwal riset doktoralnya yang padat, dosen UIN Sunan Kalijaga ini turut mengemban misi diplomasi budaya melalui seni tradisional Indonesia.

Asep aktif berpartisipasi dalam kegiatan yang diinisiasi oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Belgia. Salah satu kontribusi nyatanya adalah memberikan pelatihan dalam workshop angklung kepada sivitas akademika KU Leuven. Kegiatan bertajuk Think Abroad tersebut terlaksana atas kolaborasi antara LOKO (organisasi mahasiswa KU Leuven) dengan PPI Belgia dan Leuven.

Di kampus tertua di Belgia tersebut, Asep berkantor di Faculteit Letteren bersama rekan sejawat asal Indonesia lainnya. Interaksi sosial dan budaya ini menjadi penyeimbang di tengah kesibukannya melakukan korespondensi dengan para profesor dunia dan menghadiri berbagai forum ilmiah di kota-kota seperti Leuven dan Ghent.

Keterlibatan aktif ini menunjukkan bahwa program research traineeship yang didukung Erasmus+ ini mencakup spektrum yang luas, mulai dari penguatan akademik hingga pengenalan identitas bangsa di kancah internasional.